Belajar Dari Seorang Kawan

Posted: November 8, 2012 in Cerita Kawan
Tags:

Sewaktu SMA-ku dulu,  aku dekat dengan seorang kawan. Amat dekat, dia adalah salah satu sahabat baikku. Orangnya sederhana, tiada menunjukan keangkuhan sama sekali. Banyak orang bilang sekolah di program akselerasi haruslah orang dengan finansial berlebih, wajar, ini karena biaya sekolah di aksel memang lebih mahal daripada reguler maupun kelas internasional di SMA-ku dulu. Tapi beda dengan kawanku ini, kawanku ini sungguh elok perangainya. Buatnya materi bukanlah yang utama, itu kata yang kudengar darinya.

Di kelasku dulu, punya laptop adalah hal yang biasa. Malahan laptop sudah menjadi suatu kebutuhan. Bukan suatu yang mengherankan ketika pelajaran setiap anak mencatat apa yang dikatakan guru dalam digital outline. Bisa kelimpungan kami tanpa gadget yang satu ini. Apalagi aku yang paling malas memegang pulpen saat belajar. Saat guru mempresentasikan materinya, semua anak takzim melihat monitor laptop di masing-masing mejanya. Tapi, tidak untuk kawanku yang aku ceritakan tadi. Dia adalah satu-satunya siswa di kelasku yang mencatat apa yang guru kata. Kawanku yang satu ini berasal dari keluarga yang amat sederhana. Jangankan laptop, telepon genggampun tidak punya di saat menjamur keluaran terbaru dan tercanggih masa itu. Tapi dia tetap biasa saja, tak merasa iri dengan kawan lainnya.

Aku berikan deskripsinya.

Suatu kali aku pernah main ke rumahnya, kalau kalian pernah main ke desa pastilah kalian bisa membayangkannya. Rumah kawanku ini terletak di suatu desa yang jaraknya dengan jalan raya cukup jauh, 5 kilometer menuju jalan raya. Rumahnya, bagiku, teramat sederhana. Batu bata merah yang sudah lama terlumuti terlihat menjadi tembok bagian luarnya. Hanya batu bata merah dengan semen sebagai perekatnya, itu saja. Lantainya masih berupa tanah, ya, tanah. Jendela, jangan kalian bayangkan jendelanya terdapat kaca. Jendela rumah kawanku ini hanya berupa jendela kayu, dengan tralis kayu tentunya. Bahkan aku bisa mengatakan kost-ku yang bagiku sudah amat sederhana saat SMA, masih lebih baik daripada rumah kawanku ini. Korden yang ada di rumah kawanku ini pun bukan suatu yang layak pakai menurutku. Kordennya hanya berupa spanduk partai sisa pemilu lalu. Sungguh amat kontras jika dilihat betapa cerdasnya kawanku ini.

Rumahnya hanya berdinding bata dan semen perekatnya. Lantainya masih tanah, jendelanya pun kayu belaka. Tapi sungguh Tuhan memberikan nikmat yang luar biasa untuk kawanku ini.

Tuhan memang adil, walaupun hidup dalam keterbatasan tapi tak membuat kawanku ini lantas terhenti harapan. Sejak SMA impiannya begitu tinggi. Kemampuannya pun jauh di atas rata-rata teman yang lainnya. Lalu dari mana dia bisa membiayai pendidikannya di aksel? Jawabnya sederhana, beasiswa. Ya, dia adalah salah satu penerima beasiswa di sekolahku. Asal kalian tahu, penerima beasiswa untuk aksel perlu syarat yang begitu berat dalam hal akademisnya, harus menjaga 3 besar peringkat di kelas tiap semesternya. Dan kawanku ini selalu meraih itu.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Aku ingat betul saat kami hendak lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Kawanku ini beda pemikirannya. Saat kawanku yang lain bercerita bahwa kawan mereka yang cerdas-cerdas harus terhenti sekolahnya hanya sampai SMA, beda dengan sahabat baikku ini. Menurutnya biaya bisa diakali asal mau berusaha. Dan terbukti, dia bisa masuk jurusan Teknik Kimia UGM dengan uang masuk 0 rupiah dan biaya semester 0 rupiah, bahkan tiap bulan dia mendapatkan penghasilan dari beasiswanya. Asal kalian tahu lagi, Teknik Kimia UGM adalah salah satu jurusan TOP 10 IPA di Indonesia. Begitu luar biasa kawanku ini. Yang membuatku makin tercengang adalah uang beasiswa itu tidak dihabiskannya, dia menggunakannya untuk membiayai keluarga. Ayahnya sudah tua dan sering sakit-sakitan katanya. Untuk mencukupi biaya hidup sehari-harinya dia mengajar beberapa anak SMA di lingkungan kampusnya. Hatiku terenyuh, betapa keras usaha kawanku ini. Setidaknya aku kagum dengannya, bahkan pada saudara-saudaranya. Seluruh saudaranya bisa sekolah dengan beasiswa. Kakaknya juga seorang mahasiswa, hanya satu tahun beda darinya. Kakaknya mendapat beasiswa dari pesantren tempat sekolahnya dulu. Dia dikuliahkan dan diberi biaya hidup dari yayasan pesantren tempatnya mengabdi. Adik perempuannya saat ini duduk di bangku SMA. Sama, dia juga mendapatkan beasiswa. Kalaulah kalian sempat ke rumahnya, di sana dipajang berbagai piala hadiah lomba menulis. Itu milik adik perempuan kawanku ini, baisanya ia mencari tambahan uang saku dengan mengikuti berbagai lomba menulis. Adik laki-laki bungsunya pun sama, sekolah di sekolah internasional tanpa sedikit biayapun. Sekolah internasional, bayangkan! Betapa bangganya menjadi Ibu dan Ayah kawanku ini karena memilik anak-anak  yang begitu luar biasa. Sungguh Tuhan itu memang sangat adil. Tuhan selalu mencukupkan rizki bagi umat-Nya. Aku pun berkaca, saat ini apa yang sudah aku lakukan untuk Ibu dan Ayahku? Ya Tuhan, berikanlah aku, Ibu dan Ayahku umur yang panjang. Berikanlah kami kesehatan agar masih banyak cerita yang dapat kami lalui bersama, seperti cerita kawanku dengan keluarganya. Aku juga ingin membuat Ibu dan Ayahku bangga, setidaknya izinkan aku tetap melihat Ibu dan Ayahku tersenyum saat aku sukses nanti.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Seorang Bidadari

Posted: November 8, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags:

Kak,

Aku ingat ketika aku jatuh dulu, sewaktu aku berlari di gerimis sore itu. Aku lari dengan riangnya, ah sial, ada batu di situ, aku tak lihat. Aku tersandung dan jatuh mengantuk tanah. Kau ingat, Kak? Aku ingat betul kejadian itu. Jidatku berdarah, pertama kalinya jidatku berdarah. Aku menangis, aku ketakutan. Aku takut Kak, aku takut seandainya darahku habis atau luka itu tak dapat disembuhkan. Biasa, pemikiran anak kecil. Lalu kau datang, menghampiriku. Tak seperti biasanya, ketika aku menangis kau selalu marah, tapi kali ini tidak. Kau diam, langsung menggendongku yang sedang menangis. Aku dengar kau terisak saat itu, kau tidak marah tapi menangis. Sesampainya di rumah Ibu panik, dan kau dimarahi Ibu. Padahal itu salahku.

Kak,

Aku ingat ketika pelajaran prakarya sewaktu SD dulu. Kau ingat Kak? Aku ingat betul itu. Saat ketika kuputuskan membuat lukisan dengan batang ilalang. Aku kecil memang kretaif, untuk tidak menyebutnya aneh. Ketika batang ilalang itu habis, aku pergi mencarinya di pekuburan dekat rumah kita. Sore, saat senja mulai mewarnai langit kota kita. Kau tahu aku berbeda dengan anak lainnya, fantasi visualku bermacam-macam. Aku tidak berani pulang saat itu, aku menangis, banyak yang membuatku menangis sore itu. Entah, bagaimana caranya tiba-tiba ada kau di sebelahku. Merangkulku, menenangkanku atas tangisku.

Kak,

Aku ingat saat dulu aku pergi ke kota nan jauh dari tempat kecil kita dulu. Aku ingat saat itu aku hanya pergi bersama Ayah. Aku menangis Kak. Aku takut akan sangat merindukan Ibu. Aku takut sendirian Kak. Aku takut sekali. Tiba-tiba dari Jogja kau menelponku Kak. Mengingatkan bahwa semua akan baik-baik saja. Dan kau berjanji terus menjengukku di rumah nenek. Padahal aku tahu, di Jogja, di UGM sana, kau pasti sedang sibuk dengan urusan kuliahmu. Tapi kau tak ingkar janji Kak, sekalipun tidak. Kau rutin mengunjungiku, kau datang menghiburku. Kau datang menenangkanku saat aku sedang teramat rindu pada Ibu. Kau selalu ada Kak untukku.

Kak,

Aku juga ingat saat hari bahagiamu. Saat hari pernikahanmu. Akhirnya kau menikah Kak. Kau lebih memilih menikah tidak di Jakarta, kau putuskan menikah di Purworejo, di rumah nenek. Alasanmu agar kau dapat mengundang teman-teman semasa SMA-mu di sini. Tapi Aku tahu Kak, malam seusai acara bahagiamu aku tahu Kak. Ibu bercerita padaku. Kau ingin menikah di sini karena kau ingin aku bisa menghadiri acara sakralmu itu. Tapi aku tak menyadari itu, aku egois, lebih memilih kegiatanku. Aku terlalu sibuk dengan urusan mengejar ilmu, bahkan saat itu hari libur Kak. Ternyata pagi sebelum akad nikahmu Kau menangis mengadu pada Ibu. Kau ingin aku melihatmu.

Kak,

Aku ingat betul ketika aku diterima di UI, kampus impianku, kampus yang selalu Ayah banggakan dan mendoakanku untuk masuk di sana. Begitu mahal membayar uang masuknya, sungguh teramat mahal. Akhirnya aku mengajukan beasiswa keringanan, tapi hasilnya masih tetap mahal. Kau yang mebayarkan semua itu Kak, bukan Ayah, tapi kau. Katamu aku tidak boleh kuliah merepotkan Ayah. Aku ingat itu Kak. Hingga akhirnya kau tahu aku diterima di STAN. Aku menutupi kelulusanku dari semua orang. Kaulah yang pertama mengetahuinya Kak, kau yang memberitahu Ayah tentang itu. Saat Aku dipersimpangan hendak meninggalkan UI atau tidak, kau menasihatiku Kak. Aku ingat betul kata-katamu, untuk tidak merepotkan Ayah saat kuliah.

Kakak,

18 tahun aku mengenalmu. Hari ini 8 November, hari ulang tahunmu, 28 tahun kau hidup di dunia ini. Belasan tahun aku mengenalmu, walau seringkali kita beradu paham, tapi tiada orang lain sebaik dirimu di dunia ini Kak. Hanya kamu. Selamat ulang tahun kakakku. Begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan darimu. Semoga Tuhan selalu menyehatkanmu, membahagiakanmu, dan memudahkan rizkimu. Selamat ulang tahun kakakku sayang.

Image

Menghargai Profesi Seorang Ibu

Posted: November 8, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags:

ImageMungkin di antara beberapa temanku yang lain, aku termasuk salah satu anak yang beruntung. Sejak kecil murni aku diasuh oleh Ibu, bahkan kakak-kakakku yang lain tiada merasakan ini. Dulu Ibu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Hal itu guna menunjang penghasilan Ayah sebagai PNS, yang di jaman sebelum reformasi dulu gajinya masih berbilang tak seberapa. Akibatnya, kakak-kakakku yang lain harus rela ditinggal Ibu kerja setiap hari, dan bertemu sorenya kembali. Tapi tidak denganku, sejak kelahiranku Ibu memutuskan untuk resign dari kantornya. Ibu memilih fokus untuk mengasuh anak laki-laki pertamanya. Konsekuensinya Ibu harus rela meninggalkan penghasilannya yang bisa dibilang lumayan untuk tinggal di Jakarta, yang konon katanya serba mahal kebutuhan di sana. Aku bahagia, sejak kecil Ibu sendirilah yang merawatku. Beda dengan kakak-kakakku, dulu mereka diasuh oleh orang lain ketika Ibu kerja. Inilah yang membuatku penuh akan cinta Ibu dan aku merasa amat sangat dekat dengan Ibu. Tiap pulang sekolah dulu yang aku temui pertama adalah Ibu. Ibu akan menyuapiku makan siang karena malasnya aku saat kanak-kanak untuk makan. Bahkan ketika aku kabur untuk bermain bersama temanku, Ibu dengan sepeda akan keliling gang mencariku, menyuruhku untuk makan. Sedikit membuat jengah, tapi di sinilah nikmatnya. Letak perbedaan nikmat yang aku rasa dengan kedua kakakku.

Saat kedua kakakku kecil, pulang sekolah yang mereka temui pertama adalah pengasuh, kami memangilnya “Mbak”. Yang menyuapi makan siang mereka juga Mbak, yang menemani tidur siang mereka juga Mbak. Sedangkan aku, begitu bahagianya aku, tidur siangku selalu di samping Ibu. Sebelum itu Ibu selalu menanyakan keadaan di sekolahku, apa aku bisa mengikuti pelajaran dan berapa nilai yang aku dapatkan di sekolah tadi? Setelah itu Ibu menemaniku mengerjakan PR sebelum tidur siang. Beda dengan kakak-kakakku, mereka lebih seperti anak Mbak daripada anak Ibu. Sungguh, ini adalah hanya sepersekian dari begitu banyak nikmat yang aku miliki dari kebersamaan dengan Ibu saat kecil dulu.

Ibuku memang sudah tidak bekerja lagi, tapi bukan berarti dia tidak memiliki pekerjaan.

Ibuku memang sudah tidak bekerja lagi, tapi bukan berarti dia tidak memiliki pekerjaan. Suatu ketika saat Idul Adha yang lalu aku membantu teman wanitaku untuk memasak daging hasil kurban kelas kami. Hanya sekali memasak padahal, tapi rasanya sudah sangat lelah yang amat sangat. Hanya sekali! Tiba-tiba aku teringat Ibu di rumah. Tiap pagi Ibu bangun sebelum adzan Shubuh berkumandang, membangunkan kami anak-anaknya untuk bersiap ibadah. Bahkan beberapa jam sebelum itu Ibu sudah siap menanak nasi guna sarapan kami sekeluarga. Setelah itu Ibu berkutat dengan dapur, berpanas-panas dengan api dan asap. Berkutat dengan tajamnya pisau dapur. Bahkan aku saja yang baru sekali memasak, tanganku sudah teriris dalam karena pisau, lalu bagaimana dengan Ibu yang sudah menjadi hari-harinya berkutat di dapur? Sudah berapa kali tangan Ibuku tergores pisau? Puluhan, ah mungkin sudah lebih dari sekedar ratusan. Tapi tiada sekali aku melihat Ibu mengeluhkan itu.

Tidak berhenti di situ, pukul setengah 6 pagi biasanya semua hal sudah siap dihidangkan di atas meja, Ibu yang melakukan semua itu. Semua Ibu persiapkan dini agar kami tidak terlambat dengan aktivitas masing-masing. Seusai sarapan Ibu akan mencuci semua perkakas makan yang baru kami gunakan. Nanti tengah hari pasti sudah ada makanan baru lagi di atas meja. Ibu memasakan kembali siang hari. Astaga, sekuat itukah tenaga Ibuku? Bahkan aku yang saat lalu memasak bersama teman-temanku saja sudah begitu marahnya karena banyak yang tidak membantu. Sedangkan Ibu, siapa yang membantu Ibu saat tidak ada orang di rumah pagi itu? Aku jadi sangat merasa malu terhadap Ibu, Ibu jarang mengeluh untuk itu, beda denganku.

Saat sore hari biasanya Ibu tidak terdiam begitu saja, Ibu penuh aktivitas di daerah kami. Ibu adalah penggerak PKK, biasanya Ibu kumpul PKK atau arisan bersama temannya. Kalau arisan libur, Ibu memilih mengaji di tempat tetangga. Nanti saat sore menjelang Ibu kembali pulang. Kembali Ibu menyiapkan makanan untuk Ayah yang biasanya pulang saat sore. Sudahkah selesai sampai di situ? Tidak. Saat malam usai Maghrib terlewati, Ibu kembali memasakan menyiapkan untuk makan malam kami. Memasak lagi? Ya, Ibuku selalu memilih memasak daripada membeli. Kata Ibu selama masih bisa memasak sendiri kenapa harus membeli? Dan makanan Ibu rasanya adalah yang nomor 1 buatku. Sungguh, begitu kagum aku kepada Ibu, ternyata begitu berat profesi seorang Ibu. Tidak hanya sebatas memasak itu saja. Tapi juga mencuci, membersihkan rumah, dan lain-lainnya. Aku jadi merasa malu karena jarang sekali aku membantu Ibu.

Ya Tuhan, sehatkanlah Ibu, sehatkanlah Ibu, sehatkanlah Ibuku!

Biarkan setiap helai ubannya menjadi pengingat bagi kami anak-anaknya, betapa keras kerja menjadi Ibu.

Sehatkanlah Ibu!

Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia selalu…

Aku Kembali Ke Peraduanku

Posted: November 7, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags: ,

6 November…

Pagi yang lumayan cerah, aku masih harus berkutat dengan UTS untuk ke sekian kalinya…

Siang yang mendung, cemas, tapi diliput bahagia, ujian kali ini aku rasa cukup menjadi moodbooster atas beberapa ujian sebelumnya….

Sore hujan turun membasahi, lagi-lagi aku direpotkan, jemuranku belum kering…

Malam tiba, saatnya pulang ke peraduan…

Bismillah, untaian doa dan segenap pengharapan mengiringi langkah kaki ini meninggalkan Bintaro. Aku bersiap menuju stasiun dengan gerimis yang mengiringi langkah kaki. Aku akan pulang, menggunakan kereta ekonomi, kali pertama sejak 3 tahun lalu menjajal kereta ini. Karena beramai-ramai maka kuputuskan untuk naik kereta Bengawan jurusan Tanah Abang-Solo Jebres.

Kereta 2 kursi 13C, kulelapkan segala penat dan keluh ujian yang selama seminggu lebih ini menjadi tanggungan kemahasiswaanku. Dalam hati aku berkata, “Sabar, Bay. Sebentar lagi juga sampai rumah. Kamu bisa bersenang-senang, bermain dengan teman-teman, bertemu orang tua terutama.”. Bersama tiga kawanku dan 2 orang ibu yang membawa seorang anak kecilnya, kami memenuhi sela kereta malam itu. Simpul senyum kami berikan kepada kedua Ibu yang terlihat cukup lelah malam itu.

Lucu banget, siapa namanya?”, tanyaku menunjuk anak kecil umur 2 tahun yang sangat menggemaskan. Mengingatkanku pada Agha, keponakanku yang masih berumur 2 tahun, yang tak kalah menggemaskannya pula.

Namanya Ojan, mas. Mas napa om nggih?”, dengan dialek Jawa, si Ibu yang duduk di samping jendela menjawab tanyaku.

Hai Ojan! Aku punya, mau ini nggak?”, aku menyodorkan sebungkus jajanan coklat kecil padanya.

Matur nuwun, ayo ngendika matur nuwun kalih mase!”, si Ibu kembali mengarahkan Ojan.

Astaga, Ojan kecil mengingatkanku pada masa-masa kecilku dulu. Sering kali aku diajak Ibu pergi ke luar kota saat kami masih tinggal di Jakarta. Hingga akhirnya masa-masa itu aku kenang kembali. Sungguh bahagia menjadi Ojan kecil, kasih sayang Ibu begitu terasa. Namun juga amat sayang menjadi Ojan kecil, pikirannya masih belum sempat merasa. Andai dia sudah bisa berpikir dan tahu begitu besar cinta Ibunya, pasti itulah hal yang membuatnya amat bahagia.

7 tahun lalu,

Aku besar di keluarga nenek di Purworejo. Kota pesisir di selatan pulau Jawa berbatasan dengan Jogja. Aku tinggal sejak SMP hingga SMA. Mandiri? Mungkin aku sudah terbiasa mandiri sejak kali pertama aku tiba rumah nenek. Jauh dari manja orang tua. Bahkan aku sempat merasakan kost saat SMA, maka ketika kuliah harus kost lagi bukanlah perkara berat bagiku, sudah terbiasa. Tiba-tiba aku berpikir memutar jauh ke belakang. Ulang tahunku. Saat ini usiaku 18 tahun, beberapa bulan lagi di awal tahun depan aku sudah 19 tahun. Kini aku berstatus mahasiswa tingkat akhir, tentunya waktu liburanku makin sedikit, aku harus mempersiapkan segala hal terkait kelulusanku. Termasuk PKL, capacity buliding dan sebagainya. Semua kegiatan itu dilakukan di awal tahun depan. Artinya saat ulang tahun ke-19-ku nanti aku tidak bersama dengan orang tuaku lagi. Sedih, ini kali kesekian sejak aku SMP berulang tahun dalam suasana tidak bersama orang tua. Bukan masalah merayakannya, akupun tidak berharap atas perayaannya. Tapi lebih pada perasaan yang mendalam, ketika ulang tahun dan di sisi kita ada orang tua. Aku sungguh amat sangat merindukan momen itu. Momen ketika pagi aku berulang tahun dan Ibu membangunkanku dengan nasi kuning, kecup di jidat dari Ibu dan Ayah serta doa mereka. Aku rindu kejadian itu. Ya sudahlah, aku harus bersikap dewasa kini. Setidaknya walaupun jarak mereka jauh, tapi mereka selalu ada di sini, di hati ini, selamanya.

7 November…

Kereta Bengawan sudah melewati beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah, semalaman aku susah memejamkan mata. Berusaha untuk meminjam bahu temanku untuk mengistirahatkan sejenak kedua mata ini, tapi masih tak kuasa. Buncah hati ini dengan rasa bahagia segera bertemu Ibu dan Ayahku. Tapi juga berat hati ini menyadari bahwa di tahun depan, saat momen ulang tahunku, saat itu aku akan sangat amat merindukan mereka di hadapanku.

Pukul 04.15 WIB…

Kereta tiba di Stasiun Kutoarjo. Awalnya aku hendak turun di Jogja, lalu bertemu dulu dengan kawan-kawan SMA-ku. Tapi tidak, aku sudah teramat rindu pada Ibu. Dari sejak SMP dulu aku sudah amat jarang bertemu Ibu dan Ayahku. Ini adalah saatnya, saat aku menuangkan segala kerinduan pada cinta sepanjang hayatku. Aku juga tak menunggu kereta komuter ke Jogja seperti biasa untuk turun di stasiun kecil dekat rumahku. Kuputuskan untuk naik ojek saat itu juga, aku ingin cepat sampai rumah. Aku ingin segera mencium punggung tangan Ibuku, aku ingin segera bercerita banyak hal pada Ayahku. Aku ingin segera bersama mereka kembali dalam kesempatan yang berharga ini. Akhirnya aku kembali ke peraduanku.

Senja Bengawan, kereta yang membawa menuju peraduanku...

Ayah, Peri Cintaku

Posted: November 7, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags:

Aku terlahir dari sebuah keluarga kecil sederhana di pinggiran Kota Jakarta, kota yang katanya banyak budaya dan peradaban berbaur dalam satu bahtera.

Aku bersyukur Tuhan masih memberikanku keluarga yang begitu lengkap, sampai saat ini aku pun masih merasakan kasih sayang utuh Ibu, Ayah, kakak dan adikku. Terlahir sebagai anak tengah itu adalah suatu yang sangat luar biasa untuk dirasa, merasakan sebagai seorang adik yang selalu mendapat kasih sayang juga dituntut menjadi seorang kakak juga harus membagi kasih sayangnya. Walaupun kadang kala pertengkaran sering terjadi di antara kami, di antara hubungan persaudaraan kami. Tapi kata Ibu itu adalah hal biasa, kadang hidup ada bahagianya ada juga bersitegangnya.

Meskipun begitu, aku kecil sering merasa iri dengan keluarga temanku yang lain. Dengan keluarga yang aku rasa sudah cukup lengkap itu, aku masih merasa ada satu yang hilang dalam kehidupan ini.

Kadang aku sering merasa keluargaku begitu berbeda. Walaupun Ibu dan Ayah begitu hangat membagi cinta kasih sayangnya, tapi selalu saja aku sering merasa perbedaan yang ada di antara mereka. Bagaikan ada satu jurang pemisah yang jauh sangat dalam hingga ke isi perut bumi. Teramat dalam untuk dilampaui.

Ayah, seorang yang begitu bijaksana bagiku. Ayahku adalah seorang yang cukup pendiam. Marah? Jarang Ayah meluapkan emosinya dengan marah-marah memakiku. Ketika marah Ayah lebih memilih mendiamkanku. Itu lebih terasa menyayat hati daripada memakiku. Tapi di situlah aku paham yang dimaksud Ayah, Ayah diam karena menungguku menyadari apa yang telah aku perbuat. Aku ingat ketika suatu saat aku kost jaman SMA, uang bulananku hilang. Mungkin jumlahnya tidak seberapa bagi orang lain, tapi cukup bermanfaat bagiku. Aku mengadu pada Ibu atas hilangnya uangku. Alih-alih meraih simpati malah Ibu habis-habisan memarahiku, menilaiku begitu ceroboh dan tidak peduli. Aku sadar itu memang kesalahanku, andai sedikit saja aku mau menghargai arti satu rupiah uang dan cara mendapatkannya, pasti aku akan lebih berhati-hati untuk itu. Tapi tidak untuk Ayah, Ayah tidak memarahiku seperti Ibu. Dia hanya diam dan berkata, “Ya sudah, kalau sudah hilang terus mau diapakan lagi?”. Hanya seperti itu, dan selanjutnya diam. Sempat kesal aku terhadap Ayah, begitu saja kah cukup? Aku sering menilai Ayah tidak peduli. Sampai akhirnya aku menelpon kakakku dan mengungkit-ungkit latar belakang Ayah, mengadu. Latar belakang Ayah? Iya, Ayahku adalah seorang yang berbeda. Seperti yang aku kata, aku sering iri dengan orang tua teman-teman yang lain yang mereka “seragam”. Kenapa tidak untuk orang tuaku?

Sejak kecil, teman-teman mainku sering meledek ketidakseragaman kedua orang tuaku. Itu benar-benar membuatku kesal dengan mereka, juga di situlah aku sering kesal dengan Ayah. Kenapa Ayah harus begitu? Kenapa Ayah tidak sama seperti Ibu, sama sepertiku? Kenapa Ayah harus berbeda? Kenapa?

Dulu, aku sering mengutuki Tuhan, kenapa Ayah harus bertemu dengan Ibuku? Aku bahkan sempat benci dengan Tuhan. Kenapa harus ada berbagai latar belakang yang membuat semua manusia di dunia tidak seragam dan serupa. Sungguh, aku benci dengan hal itu dulu, sangat benci. Hingga suatu ketika ledekan dari teman kecilku sudah sungguh membuat begitu marahnya aku. Aku pulang membanting pintu. Ibu terheran, aku menangis.

“Kenapa?”, tanya Ibu.

“Aku mau Ayahku bukan yang itu! Aku mau Ayah yang lain, yang sama seperti Ibu! Aku mau Ayahku diganti!”, keras jawabku.

Di situ, saat itulah, Ibu menangis, itu kali pertama yang aku rasa aku telah membuat Ibu menangis karena perkataanku. Ibu menangis. Tapi aku sudah terlanjur emosi, dadaku sesak mengutuki keadaan kedua orang tuaku. Aku membenci Ayah saat itu. Saat itu, mungkin sampai saat ini Ibu belum sekalipun menceritakan kejadian itu kepada Ayah. Kalau saat itu Ayah mendengar perkataanku mungkin hatinya akan begitu hancur.

Di sekolah ada suatu pelajaran berkaitan dengan norma, jujur, ini pelajaran yang paling aku hormati tapi sangat aku benci ketika sampai pada suatu bahasan mengenai latar belakang manusia. Mengenai apa yang manusia percayai dalam menjalani hidup, aku benci membahas itu. Otakku dipenuhi kekesalan yang amat sangat jika dibahas masalah itu, seketika aku akan teringat keluargaku, aku teringat kedua orang tuaku. Pertanyaan dan pertanyaan sering terbersit, “Kenapa Ayah berbeda? Kenapa?”. Banyak orang menilai perbedaan adalah warna, tapi perbedaan juga sering dijadikan alasan untuk saling memerangi, memusuhi. Kenapa?

Aku terus berharap Ayah akan sama seperti kami, kami semua di dalam rumah ini. Aku selalu menginginkan kita semua satu warna. Aku berharap memiliki keluarga seperti keluarga teman-teman yang lain. Yang sama, yang sewarna. Bisakah? Tapi, aku sadar, aku menyadari aku tiada hak untuk memaksa.

Aku percaya apa yang Ayah jalani, apa yang Ayah percayai. Aku yakin Ayah telah mengerti segala konsekuensi dan manfaatnya. Aku mulai mencoba untuk berpikir lebih dewasa mengenai arti dari sebuah toleransi. Mau bagaimanapun dia tetaplah Ayahku, Ayahku nomor 1 yang ketika marah selalu membuatku untuk menyadari apa kesalahanku. Ayahku memang berbeda, tapi dia tetap Ayahku, pemimpin keluargaku. Aku harus tetap hormat padanya, jiwaku ini ada karena cintanya. Aku tiada akan pernah lagi merutuki apa yang terjadi. Aku percaya bahwa meskipun kami berbeda tapi kami tetap keluarga. Dia masih Ayahku, Ayahku yang selalu membelikanku buku, Ayah yang mau bersusah payah kehujanan menjemputku, Ayah yang ketika aku sakit langsung mengantarkanku ke dokter walau hanya sakit gigi biasa. Aku sayang Ayah, aku cinta Ayah. Ayah, maafkan kalau aku dulu begitu sering kesal dan membencimu.

Aku yakin di setiap inci relung hatimu, pasti tak sedikitpun kau membenciku, membenci kami anak-anakmu yang berbeda denganmu. Ayah, peri cintaku.

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hati ku ingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Hello world!

Posted: November 7, 2012 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!