Archive for the ‘Jurnal Ceritaku’ Category

Suatu ketika Ayah pulang dari tempatnya bekerja, tangannya menggenggam sebungkus plastik hitam. Sudah aku terka dari baunya, itu martabak coklat kacang kesukaanku. Dan ternyata benar, memang itu yang Ayah bawa. Kami pun menyerbu bungkusan yang Ayah bawa. Bau martabak hangat begitu amat menggoda, dengan lelehan coklat yang semakin menambah selera. Kami berebut, satu-dua kakak tertuaku mengambil jatahnya, disusul kakak keduaku dan aku tentunya. Aku makan dengan lahapnya. Tiba-tiba ada satu sisa potongan di atas meja. Ibu pun mengabilnya, hanya menggigit ujungnya dan memberikannya pada Kak Dhita, nama kakakku yang kedua.

Aku pun marah.

Aku marah karena merasa Ibu begitu pilih kasih pada kakakku yang satu ini. Ayah pun begitu. Aku kecil begitu amat iri dengan Kak Dhita. Dialah yang selalu Ayah banggakan. Aku iri tiap kali Ayah menyuruhku untuk berlaku spertinya. Kakakku yang satu itu memang anak yang wajar untuk dibanggakan. Sungguh elok perangainya. Senyumnya begitu manis, giginya begitu rapi, dan kacamata cantik menghiasai wajah kanak-kanaknya yang masih lugu kala itu. Sudah bisa ditebak , pastinya kakakku ini adalah kutu buku, dan memang. Berbeda dengan aku yang amat dekat dengan Iku, kakkku ini begitu dekat dengan Ayahku.

Kakakku ini adalah anak yang begitu rajin bekerja membantu Ibu.Membantu Ibu menucuci piring, membantu Ibu membersihkan rumah, dan jadwal rutinnya tiap sore yaitu menutup jendela dan korden tanpa disuruh terlebih dahulu. Beda denganku yang walaupun sudah disuruh tapi tetap enggan melakukannya. Kakakku ini juga merupakan anak yang begitu cerdas, tak pernah lepas dari peringkat 1. Sebenarnya dia adalah sosok kakak yang begitu amat baik untukku. Tiap kali pulang sekolah tak pernah lupa dibawakannya aku permen yang ia beli dari uang sakunya. Tapi tetap saja, aku selalu merasa iri dengannya, karena tiap kali aku bermalas-malasan Ibu akan memarahiku dan menyuruhku untuk meniru Kak Dhita. Aku tak suka dibandingkan. Kerap aku coba untuk mengganggunya, mulai dari menyembunyikan buku sekolahnya hingga mencukur gundul boneka barbie-nya. Tapi dia biasa saja, seolah menganggapku hanya berlaku selayaknya anak kecil biasa. Dia tak pernah tahu bahwa sesungguhnya di dalam dadaku buncah akan rasa iri terhadapnya.

Hingga suatu ketika persitiwa itu terjadi. Aku merasa dia akan pergi jauh meninggalkanku, aku pun bilang pada Ibu dan malah Ibu marah-marah padaku. Menyuruhku untuk tidak berbicara macam-macam. Itu semakin membuatku merasa disisihkan, merasa kakakku lebih diutamakan. Aku makin iri dengannya. Siang itu kakakku berpamitan untuk pergi mengerjakan tugas sekolahnya pada Ibu. Dengan membawa sepeda mininya, aku merasa ada suatu yang ganjil dengan itu. Aku ingat perintah Ibu untuk tidak macam-macam, aku pun diam. Siang itu tiada permen dari kakakku. Aku pun hanya bermain di luar rumah seperti biasa. Tiba-tiba teman kakakku datang berlari ke rumah sambil sesenggukan. Aku masuk ke dalam rumah dan mamangil Ibu, tak paham apa yang terjadi. Tiba-tiba Ibu terdiam, Ibu teriak sejadi-jadinya, Ibu menangis. Aku tak mengerti. Ibu pun pergi segera saat itu, aku tak tahu ke mana. Aku di rumah ditunggui tetanggaku sampai kakak pertamaku pulang sekolah. Sore tiba hingga malam pun menjelang, Ibu tak kunjung pulang dan Ayah jua tak ada. Aku mulai bertanya-tanya pada kakakku. Ke mana Ibu? Ke mana Ayah? Ke mana mereka? Kakakku hanya menyuruh sabar. Aku mulai menangis dan kakakku menghardikku dengan bahasa yang tak dapat ku tangkap maksudnya.

Aku marah saat itu, aku berpikir Ibu dan Ayah sedang pergi dengan Kak Dhita tanpa mengajakku. Aku rindu Ibu, aku takut sendirian, aku tak mau di rumah tanpa Ibu. Aku mulai hilang kendali, kubanting segala benda di dalam rumah. Kakak pertamaku tidak marah, dia justru menangis sejadi-jadinya.

Akhirnya esok tiba, Ibu dan Ayah masih belum kembali. Kakakku sudah bersiap berangkat sekolah, tante lah yang mengurusku pagi itu. Aku sedang malas, aku pilih bolos sekolah, aku sedang benci dengan Ibu, Ayah dan Kak Dhita. Aku benci mereka. Hingga malam tiba aku masih enggan makan, tanteku bingung, aku masih marah. Hingga tiada kuasa mataku menahan kantuk menunggu Ibu pulang ke rumah, aku tertidur.

Pagi Shubuh pun tiba, aku terbangun karen suasana ramai rumahku. Banyak orang di sini, Ibu dan Ayah sudah kembali. Aku berjalan ke ruang tengah dengan mambawa tas kecilku yang aku persiapkan untuk kabur dari rumah mencari Ibu malam sebelumnya. Tiba-tiba kakiku terhenti setelah terhadap pada kerumunan tetangga. Kakak tertuaku terlihat duduk di pojok ruang dengan wajah sendunya. Ada meja di ruang itu dan kulihat Kak Dhita terbujur di situ, dia telah tiada. Semua orang menangis, Ibu memelukku, aku pun akhirnya menangis tanpa tahu sebenarnya ada apa.

Ternyata saat siang itu, kakakku mengalami kecelakaan bersama temannya. Sebuah truk besar menghantamnya dari belakang. Itu lah yang mebuat Ibu histeris siang itu, itulah yang membuatnya menangis seketika. Sejak saat itu kakakku di bawa ke rumah sakit, Ibu dan Ayah ternyata menemani kakakku selama di ICU. Bahkan aku tak tahu soal itu. Yang aku ketahui adalah saat kakakku telah mebujur di hadapanku, tanpa hembusan nyawa lagi tanpa tawanya lagi. Itu artinya mulai hari-hari ke depan tiada lagi permen tiap pulang sekolah untukku. Tapi bukan itu yang aku sedihkan. Aku sedih karena aku sadar, aku ditinggalaknnya masih dalam rasa cemburu. Aku belum sempat mengatakan maaf kepada kakakku. Begitu cepat Tuhan mengabil nyawanya. Bahkan aku belum sempat mengembalikan buku catatannya yang aku sembunyikan di bawah lemari Ibu. Aku rindu pada kakakku, andai waktu bisa diputar kembali aku hanya ingin berkata maaf dan terima kasih atas segalanya, untuk permen-permen  yang diberikannya. Tapi itu sudah berlalu, Tuhan lebih menginginkan kakakku yang baik hatinya itu untuk berada di samping-Nya. Aku percaya Tuhan begitu menyayangi kakakku, oleh karenanya Dia memanggilnya. Semoga Tuhan meninggikan derajat kakakku di tempat sana. Meskipun terlambat tapi tiada salahnya kalau aku berkata, “Aku sayang kamu Kak. Aku rindu kamu, suatu saat pasti kita dipertemukan lagi, entah kapan itu. Insya Allah kita bertemu dalam tempat terindah-Nya.”

 

 

Tapi itu sudah berlalu, Tuhan lebih menginginkan kakakku yang baik hatinya itu untuk berada di samping-Nya. Aku percaya Tuhan begitu menyayangi kakakku, oleh karenanya Dia memanggilnya. Semoga Tuhan meninggikan derajat kakakku di tempat sana. Meskipun terlambat tapi tiada salahnya kalau aku berkata, “Aku sayang kamu Kak. Aku rindu kamu, suatu saat pasti kita dipertemukan lagi, entah kapan itu. Insya Allah kita bertemu dalam tempat terindah-Nya.” – IN MEMORIAM “PRADINA DUHITA (DHITA)”

Pesan Dari Membaca

Posted: November 9, 2012 in Jurnal Ceritaku

Masa kecil adalah masa yang identik dengan kebahagiaan, pasti juga penuh akan mainan. Tapi, tidak denganku. Sewaktuku kecil, aku lebih dahulu mengenal buku daripada mengenal mainan. Ya, itu sungguhan terjadi. Ayahku adalah seorang yang begitu maniak membaca, apapun bacaanya. Kata Ayah, manusia itu menjadi banyak tahu karena membaca. Jadi, sejak aku kecil Ayah sudah mengenalkanku lebih dahulu dengan buku. Dari mulai buku bergambar biasa, hingga buku canggih yang aku miliki saat itu. Di buku itu ada jarum jam yang bisa bergerak sendiri, itu canggih buatku. Buku mengenai pelajaran mengenal waktu.

Sejak umurku 5 tahun bahkan, aku sudah bisa menghapal 48 nama partai pemilu 1999. Lengkap dengan nomor urut dan siapa pemimpin partainya. Semua juga gara-gara Ayah. Dulu Ayah memberikanku gambar peserta pemilu dan gambar tokoh pemimpinnya. Di situlah aku mulai dikenal tetangga sebagai anak yang aneh. Karen di saat teman-teman yang lain sibuk bermain mobil-mobilannya, aku sudah bisa membaca koran waktu itu dan mulai suka bertanya-tanya tentang politik masa itu. Karena itu jugalah aku sangat suka dengan Amien Rais. Wajar, karena di tahun 1997-1998 wajah beliau lah yang selalu menghiasai layar kacaku. Bahkan kalau sedang ada beliau di layar kaca, aku akan menghalangi semua orang untuk melihatnya. Hanya aku yang boleh melihat.

Aku kecil adalah anak yang serba ingin tahu. Suatu ketika aku bertanya pada kakakku, kenapa langit berwarna biru? Kakakku menjawab sekenanya. Aku tanya pada Ibu pun hanya di jawab sekenanya, tanpa dalil yang jelas. Lalu kutanyakan pada Ayah, Ayah tidak menjawabnya. Namun, di esok harinya Ayah memberiku buku komik “Rahasia Pengetahuan”, di situlah aku mulai tahu kenapa langit berwarna biru. Selanjutnya ketika aku bertanya apa ibukota Suriname, saat itu juga Ayah langsung mengajakku ke daerah Maester Jatinegara, di situ aku dibelikan buku pintar seri junior. Aku khatam membaca buku tebal itu. Buku itu pun kubawa tidur sampai-sampai terbawa dalam mimpiku. Lalu, saat usiaku 6, Ayah menggantinya dengan buku pintar seri senior yang sampulnya berwarna jingga. Lebih tebal dan lebih berat. Tapi aku suka dengan buku itu. di saat teman-teman yang lain pamer akan tamiya-nya aku dengan bangga pergi bermain dengan menenteng buku itu.

 

Kata Ayahku, kalau aku mau mebaca buku maka aku akan menjadi banyak tahu.

 

Kata Ayahku, kalau aku mau mebaca buku maka aku akan menjadi banyak tahu. Maka di situlah Ayah sering mengajakku ke toko buku. Ayah begitu rutin membelikanku buku, tapi tidak untuk mainan. Jangan harap Ayah akan membelikanku itu, walaupun aku harus merengek tersedu-sedu. Tapi ketika aku meminta dibelikan buku Ayah akan dengan siap sedia membelikannya. Hal itu bahkan masih berlanjut sampai kuliah ini. Tiap kali aku minta uang untuk membeli buku, Ayah tak segan-segan memberi uang yang banyak untuk itu. Tapi ketika aku meminta uang untuk membeli baju baru, kata Ayah, “Yang lama masih bagus kan?”. Hanya seperti itu. Ya begitulah watak Ayahku. Tapi aku sadar manfaat dari semua itu. Membaca. Ya, membaca saat ini menjadi hal yang paling menyenangkan bagiku. Dalam sebulan bisa banyak buku yang aku selesaikan. Semua juga karena Ayah, aku meniru apa yang dilakukannya. Satu kebiasaan Ayah yang masih membuatku sedikit bingung adalah setiap hendak ke toilet Ayah selalu mambawa bacaan. Di sana Ayah bisa berlama-lama. Bahkan Ayah bercerita ingin membuat toilet yang luas dengan  perpustaakaan si dalamnya. Sungguh aneh perangai Ayahku. Tapi di balik semua itu, ya itulah poin lebih Ayahku menurutku. Aku merasa beruntung karena Ayah mengajarkanku untuk menyukai buku sejak kecilku. Banyak anak-anak zaman sekarang yang melihat buku saja sudah enggan, apalagi membacanya. Padahal di dalam sebuah buku kita bisa berfantasi tentang semua hal yang terjadi. Buku mengajarkanku begitu banyak ilmu dan buku mengajarkanku untuk memiliki fantasi dan imajinasi. Buku adalah jendela dunia, itu lah poster yang Ayah pasang di kamarku dulu sebagai pengingat betapa pentingnya arti membaca. Kalau hendak melihat dunia, haruslah banyak membaca.

 

Kalau hendak melihat dunia, haruslah banyak membaca.

 

Seorang Bidadari

Posted: November 8, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags:

Kak,

Aku ingat ketika aku jatuh dulu, sewaktu aku berlari di gerimis sore itu. Aku lari dengan riangnya, ah sial, ada batu di situ, aku tak lihat. Aku tersandung dan jatuh mengantuk tanah. Kau ingat, Kak? Aku ingat betul kejadian itu. Jidatku berdarah, pertama kalinya jidatku berdarah. Aku menangis, aku ketakutan. Aku takut Kak, aku takut seandainya darahku habis atau luka itu tak dapat disembuhkan. Biasa, pemikiran anak kecil. Lalu kau datang, menghampiriku. Tak seperti biasanya, ketika aku menangis kau selalu marah, tapi kali ini tidak. Kau diam, langsung menggendongku yang sedang menangis. Aku dengar kau terisak saat itu, kau tidak marah tapi menangis. Sesampainya di rumah Ibu panik, dan kau dimarahi Ibu. Padahal itu salahku.

Kak,

Aku ingat ketika pelajaran prakarya sewaktu SD dulu. Kau ingat Kak? Aku ingat betul itu. Saat ketika kuputuskan membuat lukisan dengan batang ilalang. Aku kecil memang kretaif, untuk tidak menyebutnya aneh. Ketika batang ilalang itu habis, aku pergi mencarinya di pekuburan dekat rumah kita. Sore, saat senja mulai mewarnai langit kota kita. Kau tahu aku berbeda dengan anak lainnya, fantasi visualku bermacam-macam. Aku tidak berani pulang saat itu, aku menangis, banyak yang membuatku menangis sore itu. Entah, bagaimana caranya tiba-tiba ada kau di sebelahku. Merangkulku, menenangkanku atas tangisku.

Kak,

Aku ingat saat dulu aku pergi ke kota nan jauh dari tempat kecil kita dulu. Aku ingat saat itu aku hanya pergi bersama Ayah. Aku menangis Kak. Aku takut akan sangat merindukan Ibu. Aku takut sendirian Kak. Aku takut sekali. Tiba-tiba dari Jogja kau menelponku Kak. Mengingatkan bahwa semua akan baik-baik saja. Dan kau berjanji terus menjengukku di rumah nenek. Padahal aku tahu, di Jogja, di UGM sana, kau pasti sedang sibuk dengan urusan kuliahmu. Tapi kau tak ingkar janji Kak, sekalipun tidak. Kau rutin mengunjungiku, kau datang menghiburku. Kau datang menenangkanku saat aku sedang teramat rindu pada Ibu. Kau selalu ada Kak untukku.

Kak,

Aku juga ingat saat hari bahagiamu. Saat hari pernikahanmu. Akhirnya kau menikah Kak. Kau lebih memilih menikah tidak di Jakarta, kau putuskan menikah di Purworejo, di rumah nenek. Alasanmu agar kau dapat mengundang teman-teman semasa SMA-mu di sini. Tapi Aku tahu Kak, malam seusai acara bahagiamu aku tahu Kak. Ibu bercerita padaku. Kau ingin menikah di sini karena kau ingin aku bisa menghadiri acara sakralmu itu. Tapi aku tak menyadari itu, aku egois, lebih memilih kegiatanku. Aku terlalu sibuk dengan urusan mengejar ilmu, bahkan saat itu hari libur Kak. Ternyata pagi sebelum akad nikahmu Kau menangis mengadu pada Ibu. Kau ingin aku melihatmu.

Kak,

Aku ingat betul ketika aku diterima di UI, kampus impianku, kampus yang selalu Ayah banggakan dan mendoakanku untuk masuk di sana. Begitu mahal membayar uang masuknya, sungguh teramat mahal. Akhirnya aku mengajukan beasiswa keringanan, tapi hasilnya masih tetap mahal. Kau yang mebayarkan semua itu Kak, bukan Ayah, tapi kau. Katamu aku tidak boleh kuliah merepotkan Ayah. Aku ingat itu Kak. Hingga akhirnya kau tahu aku diterima di STAN. Aku menutupi kelulusanku dari semua orang. Kaulah yang pertama mengetahuinya Kak, kau yang memberitahu Ayah tentang itu. Saat Aku dipersimpangan hendak meninggalkan UI atau tidak, kau menasihatiku Kak. Aku ingat betul kata-katamu, untuk tidak merepotkan Ayah saat kuliah.

Kakak,

18 tahun aku mengenalmu. Hari ini 8 November, hari ulang tahunmu, 28 tahun kau hidup di dunia ini. Belasan tahun aku mengenalmu, walau seringkali kita beradu paham, tapi tiada orang lain sebaik dirimu di dunia ini Kak. Hanya kamu. Selamat ulang tahun kakakku. Begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan darimu. Semoga Tuhan selalu menyehatkanmu, membahagiakanmu, dan memudahkan rizkimu. Selamat ulang tahun kakakku sayang.

Image

Menghargai Profesi Seorang Ibu

Posted: November 8, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags:

ImageMungkin di antara beberapa temanku yang lain, aku termasuk salah satu anak yang beruntung. Sejak kecil murni aku diasuh oleh Ibu, bahkan kakak-kakakku yang lain tiada merasakan ini. Dulu Ibu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Hal itu guna menunjang penghasilan Ayah sebagai PNS, yang di jaman sebelum reformasi dulu gajinya masih berbilang tak seberapa. Akibatnya, kakak-kakakku yang lain harus rela ditinggal Ibu kerja setiap hari, dan bertemu sorenya kembali. Tapi tidak denganku, sejak kelahiranku Ibu memutuskan untuk resign dari kantornya. Ibu memilih fokus untuk mengasuh anak laki-laki pertamanya. Konsekuensinya Ibu harus rela meninggalkan penghasilannya yang bisa dibilang lumayan untuk tinggal di Jakarta, yang konon katanya serba mahal kebutuhan di sana. Aku bahagia, sejak kecil Ibu sendirilah yang merawatku. Beda dengan kakak-kakakku, dulu mereka diasuh oleh orang lain ketika Ibu kerja. Inilah yang membuatku penuh akan cinta Ibu dan aku merasa amat sangat dekat dengan Ibu. Tiap pulang sekolah dulu yang aku temui pertama adalah Ibu. Ibu akan menyuapiku makan siang karena malasnya aku saat kanak-kanak untuk makan. Bahkan ketika aku kabur untuk bermain bersama temanku, Ibu dengan sepeda akan keliling gang mencariku, menyuruhku untuk makan. Sedikit membuat jengah, tapi di sinilah nikmatnya. Letak perbedaan nikmat yang aku rasa dengan kedua kakakku.

Saat kedua kakakku kecil, pulang sekolah yang mereka temui pertama adalah pengasuh, kami memangilnya “Mbak”. Yang menyuapi makan siang mereka juga Mbak, yang menemani tidur siang mereka juga Mbak. Sedangkan aku, begitu bahagianya aku, tidur siangku selalu di samping Ibu. Sebelum itu Ibu selalu menanyakan keadaan di sekolahku, apa aku bisa mengikuti pelajaran dan berapa nilai yang aku dapatkan di sekolah tadi? Setelah itu Ibu menemaniku mengerjakan PR sebelum tidur siang. Beda dengan kakak-kakakku, mereka lebih seperti anak Mbak daripada anak Ibu. Sungguh, ini adalah hanya sepersekian dari begitu banyak nikmat yang aku miliki dari kebersamaan dengan Ibu saat kecil dulu.

Ibuku memang sudah tidak bekerja lagi, tapi bukan berarti dia tidak memiliki pekerjaan.

Ibuku memang sudah tidak bekerja lagi, tapi bukan berarti dia tidak memiliki pekerjaan. Suatu ketika saat Idul Adha yang lalu aku membantu teman wanitaku untuk memasak daging hasil kurban kelas kami. Hanya sekali memasak padahal, tapi rasanya sudah sangat lelah yang amat sangat. Hanya sekali! Tiba-tiba aku teringat Ibu di rumah. Tiap pagi Ibu bangun sebelum adzan Shubuh berkumandang, membangunkan kami anak-anaknya untuk bersiap ibadah. Bahkan beberapa jam sebelum itu Ibu sudah siap menanak nasi guna sarapan kami sekeluarga. Setelah itu Ibu berkutat dengan dapur, berpanas-panas dengan api dan asap. Berkutat dengan tajamnya pisau dapur. Bahkan aku saja yang baru sekali memasak, tanganku sudah teriris dalam karena pisau, lalu bagaimana dengan Ibu yang sudah menjadi hari-harinya berkutat di dapur? Sudah berapa kali tangan Ibuku tergores pisau? Puluhan, ah mungkin sudah lebih dari sekedar ratusan. Tapi tiada sekali aku melihat Ibu mengeluhkan itu.

Tidak berhenti di situ, pukul setengah 6 pagi biasanya semua hal sudah siap dihidangkan di atas meja, Ibu yang melakukan semua itu. Semua Ibu persiapkan dini agar kami tidak terlambat dengan aktivitas masing-masing. Seusai sarapan Ibu akan mencuci semua perkakas makan yang baru kami gunakan. Nanti tengah hari pasti sudah ada makanan baru lagi di atas meja. Ibu memasakan kembali siang hari. Astaga, sekuat itukah tenaga Ibuku? Bahkan aku yang saat lalu memasak bersama teman-temanku saja sudah begitu marahnya karena banyak yang tidak membantu. Sedangkan Ibu, siapa yang membantu Ibu saat tidak ada orang di rumah pagi itu? Aku jadi sangat merasa malu terhadap Ibu, Ibu jarang mengeluh untuk itu, beda denganku.

Saat sore hari biasanya Ibu tidak terdiam begitu saja, Ibu penuh aktivitas di daerah kami. Ibu adalah penggerak PKK, biasanya Ibu kumpul PKK atau arisan bersama temannya. Kalau arisan libur, Ibu memilih mengaji di tempat tetangga. Nanti saat sore menjelang Ibu kembali pulang. Kembali Ibu menyiapkan makanan untuk Ayah yang biasanya pulang saat sore. Sudahkah selesai sampai di situ? Tidak. Saat malam usai Maghrib terlewati, Ibu kembali memasakan menyiapkan untuk makan malam kami. Memasak lagi? Ya, Ibuku selalu memilih memasak daripada membeli. Kata Ibu selama masih bisa memasak sendiri kenapa harus membeli? Dan makanan Ibu rasanya adalah yang nomor 1 buatku. Sungguh, begitu kagum aku kepada Ibu, ternyata begitu berat profesi seorang Ibu. Tidak hanya sebatas memasak itu saja. Tapi juga mencuci, membersihkan rumah, dan lain-lainnya. Aku jadi merasa malu karena jarang sekali aku membantu Ibu.

Ya Tuhan, sehatkanlah Ibu, sehatkanlah Ibu, sehatkanlah Ibuku!

Biarkan setiap helai ubannya menjadi pengingat bagi kami anak-anaknya, betapa keras kerja menjadi Ibu.

Sehatkanlah Ibu!

Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia selalu…

Aku Kembali Ke Peraduanku

Posted: November 7, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags: ,

6 November…

Pagi yang lumayan cerah, aku masih harus berkutat dengan UTS untuk ke sekian kalinya…

Siang yang mendung, cemas, tapi diliput bahagia, ujian kali ini aku rasa cukup menjadi moodbooster atas beberapa ujian sebelumnya….

Sore hujan turun membasahi, lagi-lagi aku direpotkan, jemuranku belum kering…

Malam tiba, saatnya pulang ke peraduan…

Bismillah, untaian doa dan segenap pengharapan mengiringi langkah kaki ini meninggalkan Bintaro. Aku bersiap menuju stasiun dengan gerimis yang mengiringi langkah kaki. Aku akan pulang, menggunakan kereta ekonomi, kali pertama sejak 3 tahun lalu menjajal kereta ini. Karena beramai-ramai maka kuputuskan untuk naik kereta Bengawan jurusan Tanah Abang-Solo Jebres.

Kereta 2 kursi 13C, kulelapkan segala penat dan keluh ujian yang selama seminggu lebih ini menjadi tanggungan kemahasiswaanku. Dalam hati aku berkata, “Sabar, Bay. Sebentar lagi juga sampai rumah. Kamu bisa bersenang-senang, bermain dengan teman-teman, bertemu orang tua terutama.”. Bersama tiga kawanku dan 2 orang ibu yang membawa seorang anak kecilnya, kami memenuhi sela kereta malam itu. Simpul senyum kami berikan kepada kedua Ibu yang terlihat cukup lelah malam itu.

Lucu banget, siapa namanya?”, tanyaku menunjuk anak kecil umur 2 tahun yang sangat menggemaskan. Mengingatkanku pada Agha, keponakanku yang masih berumur 2 tahun, yang tak kalah menggemaskannya pula.

Namanya Ojan, mas. Mas napa om nggih?”, dengan dialek Jawa, si Ibu yang duduk di samping jendela menjawab tanyaku.

Hai Ojan! Aku punya, mau ini nggak?”, aku menyodorkan sebungkus jajanan coklat kecil padanya.

Matur nuwun, ayo ngendika matur nuwun kalih mase!”, si Ibu kembali mengarahkan Ojan.

Astaga, Ojan kecil mengingatkanku pada masa-masa kecilku dulu. Sering kali aku diajak Ibu pergi ke luar kota saat kami masih tinggal di Jakarta. Hingga akhirnya masa-masa itu aku kenang kembali. Sungguh bahagia menjadi Ojan kecil, kasih sayang Ibu begitu terasa. Namun juga amat sayang menjadi Ojan kecil, pikirannya masih belum sempat merasa. Andai dia sudah bisa berpikir dan tahu begitu besar cinta Ibunya, pasti itulah hal yang membuatnya amat bahagia.

7 tahun lalu,

Aku besar di keluarga nenek di Purworejo. Kota pesisir di selatan pulau Jawa berbatasan dengan Jogja. Aku tinggal sejak SMP hingga SMA. Mandiri? Mungkin aku sudah terbiasa mandiri sejak kali pertama aku tiba rumah nenek. Jauh dari manja orang tua. Bahkan aku sempat merasakan kost saat SMA, maka ketika kuliah harus kost lagi bukanlah perkara berat bagiku, sudah terbiasa. Tiba-tiba aku berpikir memutar jauh ke belakang. Ulang tahunku. Saat ini usiaku 18 tahun, beberapa bulan lagi di awal tahun depan aku sudah 19 tahun. Kini aku berstatus mahasiswa tingkat akhir, tentunya waktu liburanku makin sedikit, aku harus mempersiapkan segala hal terkait kelulusanku. Termasuk PKL, capacity buliding dan sebagainya. Semua kegiatan itu dilakukan di awal tahun depan. Artinya saat ulang tahun ke-19-ku nanti aku tidak bersama dengan orang tuaku lagi. Sedih, ini kali kesekian sejak aku SMP berulang tahun dalam suasana tidak bersama orang tua. Bukan masalah merayakannya, akupun tidak berharap atas perayaannya. Tapi lebih pada perasaan yang mendalam, ketika ulang tahun dan di sisi kita ada orang tua. Aku sungguh amat sangat merindukan momen itu. Momen ketika pagi aku berulang tahun dan Ibu membangunkanku dengan nasi kuning, kecup di jidat dari Ibu dan Ayah serta doa mereka. Aku rindu kejadian itu. Ya sudahlah, aku harus bersikap dewasa kini. Setidaknya walaupun jarak mereka jauh, tapi mereka selalu ada di sini, di hati ini, selamanya.

7 November…

Kereta Bengawan sudah melewati beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah, semalaman aku susah memejamkan mata. Berusaha untuk meminjam bahu temanku untuk mengistirahatkan sejenak kedua mata ini, tapi masih tak kuasa. Buncah hati ini dengan rasa bahagia segera bertemu Ibu dan Ayahku. Tapi juga berat hati ini menyadari bahwa di tahun depan, saat momen ulang tahunku, saat itu aku akan sangat amat merindukan mereka di hadapanku.

Pukul 04.15 WIB…

Kereta tiba di Stasiun Kutoarjo. Awalnya aku hendak turun di Jogja, lalu bertemu dulu dengan kawan-kawan SMA-ku. Tapi tidak, aku sudah teramat rindu pada Ibu. Dari sejak SMP dulu aku sudah amat jarang bertemu Ibu dan Ayahku. Ini adalah saatnya, saat aku menuangkan segala kerinduan pada cinta sepanjang hayatku. Aku juga tak menunggu kereta komuter ke Jogja seperti biasa untuk turun di stasiun kecil dekat rumahku. Kuputuskan untuk naik ojek saat itu juga, aku ingin cepat sampai rumah. Aku ingin segera mencium punggung tangan Ibuku, aku ingin segera bercerita banyak hal pada Ayahku. Aku ingin segera bersama mereka kembali dalam kesempatan yang berharga ini. Akhirnya aku kembali ke peraduanku.

Senja Bengawan, kereta yang membawa menuju peraduanku...

Ayah, Peri Cintaku

Posted: November 7, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags:

Aku terlahir dari sebuah keluarga kecil sederhana di pinggiran Kota Jakarta, kota yang katanya banyak budaya dan peradaban berbaur dalam satu bahtera.

Aku bersyukur Tuhan masih memberikanku keluarga yang begitu lengkap, sampai saat ini aku pun masih merasakan kasih sayang utuh Ibu, Ayah, kakak dan adikku. Terlahir sebagai anak tengah itu adalah suatu yang sangat luar biasa untuk dirasa, merasakan sebagai seorang adik yang selalu mendapat kasih sayang juga dituntut menjadi seorang kakak juga harus membagi kasih sayangnya. Walaupun kadang kala pertengkaran sering terjadi di antara kami, di antara hubungan persaudaraan kami. Tapi kata Ibu itu adalah hal biasa, kadang hidup ada bahagianya ada juga bersitegangnya.

Meskipun begitu, aku kecil sering merasa iri dengan keluarga temanku yang lain. Dengan keluarga yang aku rasa sudah cukup lengkap itu, aku masih merasa ada satu yang hilang dalam kehidupan ini.

Kadang aku sering merasa keluargaku begitu berbeda. Walaupun Ibu dan Ayah begitu hangat membagi cinta kasih sayangnya, tapi selalu saja aku sering merasa perbedaan yang ada di antara mereka. Bagaikan ada satu jurang pemisah yang jauh sangat dalam hingga ke isi perut bumi. Teramat dalam untuk dilampaui.

Ayah, seorang yang begitu bijaksana bagiku. Ayahku adalah seorang yang cukup pendiam. Marah? Jarang Ayah meluapkan emosinya dengan marah-marah memakiku. Ketika marah Ayah lebih memilih mendiamkanku. Itu lebih terasa menyayat hati daripada memakiku. Tapi di situlah aku paham yang dimaksud Ayah, Ayah diam karena menungguku menyadari apa yang telah aku perbuat. Aku ingat ketika suatu saat aku kost jaman SMA, uang bulananku hilang. Mungkin jumlahnya tidak seberapa bagi orang lain, tapi cukup bermanfaat bagiku. Aku mengadu pada Ibu atas hilangnya uangku. Alih-alih meraih simpati malah Ibu habis-habisan memarahiku, menilaiku begitu ceroboh dan tidak peduli. Aku sadar itu memang kesalahanku, andai sedikit saja aku mau menghargai arti satu rupiah uang dan cara mendapatkannya, pasti aku akan lebih berhati-hati untuk itu. Tapi tidak untuk Ayah, Ayah tidak memarahiku seperti Ibu. Dia hanya diam dan berkata, “Ya sudah, kalau sudah hilang terus mau diapakan lagi?”. Hanya seperti itu, dan selanjutnya diam. Sempat kesal aku terhadap Ayah, begitu saja kah cukup? Aku sering menilai Ayah tidak peduli. Sampai akhirnya aku menelpon kakakku dan mengungkit-ungkit latar belakang Ayah, mengadu. Latar belakang Ayah? Iya, Ayahku adalah seorang yang berbeda. Seperti yang aku kata, aku sering iri dengan orang tua teman-teman yang lain yang mereka “seragam”. Kenapa tidak untuk orang tuaku?

Sejak kecil, teman-teman mainku sering meledek ketidakseragaman kedua orang tuaku. Itu benar-benar membuatku kesal dengan mereka, juga di situlah aku sering kesal dengan Ayah. Kenapa Ayah harus begitu? Kenapa Ayah tidak sama seperti Ibu, sama sepertiku? Kenapa Ayah harus berbeda? Kenapa?

Dulu, aku sering mengutuki Tuhan, kenapa Ayah harus bertemu dengan Ibuku? Aku bahkan sempat benci dengan Tuhan. Kenapa harus ada berbagai latar belakang yang membuat semua manusia di dunia tidak seragam dan serupa. Sungguh, aku benci dengan hal itu dulu, sangat benci. Hingga suatu ketika ledekan dari teman kecilku sudah sungguh membuat begitu marahnya aku. Aku pulang membanting pintu. Ibu terheran, aku menangis.

“Kenapa?”, tanya Ibu.

“Aku mau Ayahku bukan yang itu! Aku mau Ayah yang lain, yang sama seperti Ibu! Aku mau Ayahku diganti!”, keras jawabku.

Di situ, saat itulah, Ibu menangis, itu kali pertama yang aku rasa aku telah membuat Ibu menangis karena perkataanku. Ibu menangis. Tapi aku sudah terlanjur emosi, dadaku sesak mengutuki keadaan kedua orang tuaku. Aku membenci Ayah saat itu. Saat itu, mungkin sampai saat ini Ibu belum sekalipun menceritakan kejadian itu kepada Ayah. Kalau saat itu Ayah mendengar perkataanku mungkin hatinya akan begitu hancur.

Di sekolah ada suatu pelajaran berkaitan dengan norma, jujur, ini pelajaran yang paling aku hormati tapi sangat aku benci ketika sampai pada suatu bahasan mengenai latar belakang manusia. Mengenai apa yang manusia percayai dalam menjalani hidup, aku benci membahas itu. Otakku dipenuhi kekesalan yang amat sangat jika dibahas masalah itu, seketika aku akan teringat keluargaku, aku teringat kedua orang tuaku. Pertanyaan dan pertanyaan sering terbersit, “Kenapa Ayah berbeda? Kenapa?”. Banyak orang menilai perbedaan adalah warna, tapi perbedaan juga sering dijadikan alasan untuk saling memerangi, memusuhi. Kenapa?

Aku terus berharap Ayah akan sama seperti kami, kami semua di dalam rumah ini. Aku selalu menginginkan kita semua satu warna. Aku berharap memiliki keluarga seperti keluarga teman-teman yang lain. Yang sama, yang sewarna. Bisakah? Tapi, aku sadar, aku menyadari aku tiada hak untuk memaksa.

Aku percaya apa yang Ayah jalani, apa yang Ayah percayai. Aku yakin Ayah telah mengerti segala konsekuensi dan manfaatnya. Aku mulai mencoba untuk berpikir lebih dewasa mengenai arti dari sebuah toleransi. Mau bagaimanapun dia tetaplah Ayahku, Ayahku nomor 1 yang ketika marah selalu membuatku untuk menyadari apa kesalahanku. Ayahku memang berbeda, tapi dia tetap Ayahku, pemimpin keluargaku. Aku harus tetap hormat padanya, jiwaku ini ada karena cintanya. Aku tiada akan pernah lagi merutuki apa yang terjadi. Aku percaya bahwa meskipun kami berbeda tapi kami tetap keluarga. Dia masih Ayahku, Ayahku yang selalu membelikanku buku, Ayah yang mau bersusah payah kehujanan menjemputku, Ayah yang ketika aku sakit langsung mengantarkanku ke dokter walau hanya sakit gigi biasa. Aku sayang Ayah, aku cinta Ayah. Ayah, maafkan kalau aku dulu begitu sering kesal dan membencimu.

Aku yakin di setiap inci relung hatimu, pasti tak sedikitpun kau membenciku, membenci kami anak-anakmu yang berbeda denganmu. Ayah, peri cintaku.

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hati ku ingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi