Archive for the ‘Cerita Kawan’ Category

Belajar Dari Seorang Kawan

Posted: November 8, 2012 in Cerita Kawan
Tags:

Sewaktu SMA-ku dulu,  aku dekat dengan seorang kawan. Amat dekat, dia adalah salah satu sahabat baikku. Orangnya sederhana, tiada menunjukan keangkuhan sama sekali. Banyak orang bilang sekolah di program akselerasi haruslah orang dengan finansial berlebih, wajar, ini karena biaya sekolah di aksel memang lebih mahal daripada reguler maupun kelas internasional di SMA-ku dulu. Tapi beda dengan kawanku ini, kawanku ini sungguh elok perangainya. Buatnya materi bukanlah yang utama, itu kata yang kudengar darinya.

Di kelasku dulu, punya laptop adalah hal yang biasa. Malahan laptop sudah menjadi suatu kebutuhan. Bukan suatu yang mengherankan ketika pelajaran setiap anak mencatat apa yang dikatakan guru dalam digital outline. Bisa kelimpungan kami tanpa gadget yang satu ini. Apalagi aku yang paling malas memegang pulpen saat belajar. Saat guru mempresentasikan materinya, semua anak takzim melihat monitor laptop di masing-masing mejanya. Tapi, tidak untuk kawanku yang aku ceritakan tadi. Dia adalah satu-satunya siswa di kelasku yang mencatat apa yang guru kata. Kawanku yang satu ini berasal dari keluarga yang amat sederhana. Jangankan laptop, telepon genggampun tidak punya di saat menjamur keluaran terbaru dan tercanggih masa itu. Tapi dia tetap biasa saja, tak merasa iri dengan kawan lainnya.

Aku berikan deskripsinya.

Suatu kali aku pernah main ke rumahnya, kalau kalian pernah main ke desa pastilah kalian bisa membayangkannya. Rumah kawanku ini terletak di suatu desa yang jaraknya dengan jalan raya cukup jauh, 5 kilometer menuju jalan raya. Rumahnya, bagiku, teramat sederhana. Batu bata merah yang sudah lama terlumuti terlihat menjadi tembok bagian luarnya. Hanya batu bata merah dengan semen sebagai perekatnya, itu saja. Lantainya masih berupa tanah, ya, tanah. Jendela, jangan kalian bayangkan jendelanya terdapat kaca. Jendela rumah kawanku ini hanya berupa jendela kayu, dengan tralis kayu tentunya. Bahkan aku bisa mengatakan kost-ku yang bagiku sudah amat sederhana saat SMA, masih lebih baik daripada rumah kawanku ini. Korden yang ada di rumah kawanku ini pun bukan suatu yang layak pakai menurutku. Kordennya hanya berupa spanduk partai sisa pemilu lalu. Sungguh amat kontras jika dilihat betapa cerdasnya kawanku ini.

Rumahnya hanya berdinding bata dan semen perekatnya. Lantainya masih tanah, jendelanya pun kayu belaka. Tapi sungguh Tuhan memberikan nikmat yang luar biasa untuk kawanku ini.

Tuhan memang adil, walaupun hidup dalam keterbatasan tapi tak membuat kawanku ini lantas terhenti harapan. Sejak SMA impiannya begitu tinggi. Kemampuannya pun jauh di atas rata-rata teman yang lainnya. Lalu dari mana dia bisa membiayai pendidikannya di aksel? Jawabnya sederhana, beasiswa. Ya, dia adalah salah satu penerima beasiswa di sekolahku. Asal kalian tahu, penerima beasiswa untuk aksel perlu syarat yang begitu berat dalam hal akademisnya, harus menjaga 3 besar peringkat di kelas tiap semesternya. Dan kawanku ini selalu meraih itu.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Aku ingat betul saat kami hendak lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Kawanku ini beda pemikirannya. Saat kawanku yang lain bercerita bahwa kawan mereka yang cerdas-cerdas harus terhenti sekolahnya hanya sampai SMA, beda dengan sahabat baikku ini. Menurutnya biaya bisa diakali asal mau berusaha. Dan terbukti, dia bisa masuk jurusan Teknik Kimia UGM dengan uang masuk 0 rupiah dan biaya semester 0 rupiah, bahkan tiap bulan dia mendapatkan penghasilan dari beasiswanya. Asal kalian tahu lagi, Teknik Kimia UGM adalah salah satu jurusan TOP 10 IPA di Indonesia. Begitu luar biasa kawanku ini. Yang membuatku makin tercengang adalah uang beasiswa itu tidak dihabiskannya, dia menggunakannya untuk membiayai keluarga. Ayahnya sudah tua dan sering sakit-sakitan katanya. Untuk mencukupi biaya hidup sehari-harinya dia mengajar beberapa anak SMA di lingkungan kampusnya. Hatiku terenyuh, betapa keras usaha kawanku ini. Setidaknya aku kagum dengannya, bahkan pada saudara-saudaranya. Seluruh saudaranya bisa sekolah dengan beasiswa. Kakaknya juga seorang mahasiswa, hanya satu tahun beda darinya. Kakaknya mendapat beasiswa dari pesantren tempat sekolahnya dulu. Dia dikuliahkan dan diberi biaya hidup dari yayasan pesantren tempatnya mengabdi. Adik perempuannya saat ini duduk di bangku SMA. Sama, dia juga mendapatkan beasiswa. Kalaulah kalian sempat ke rumahnya, di sana dipajang berbagai piala hadiah lomba menulis. Itu milik adik perempuan kawanku ini, baisanya ia mencari tambahan uang saku dengan mengikuti berbagai lomba menulis. Adik laki-laki bungsunya pun sama, sekolah di sekolah internasional tanpa sedikit biayapun. Sekolah internasional, bayangkan! Betapa bangganya menjadi Ibu dan Ayah kawanku ini karena memilik anak-anak  yang begitu luar biasa. Sungguh Tuhan itu memang sangat adil. Tuhan selalu mencukupkan rizki bagi umat-Nya. Aku pun berkaca, saat ini apa yang sudah aku lakukan untuk Ibu dan Ayahku? Ya Tuhan, berikanlah aku, Ibu dan Ayahku umur yang panjang. Berikanlah kami kesehatan agar masih banyak cerita yang dapat kami lalui bersama, seperti cerita kawanku dengan keluarganya. Aku juga ingin membuat Ibu dan Ayahku bangga, setidaknya izinkan aku tetap melihat Ibu dan Ayahku tersenyum saat aku sukses nanti.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)