Agustin, Adik Baruku

Posted: April 17, 2013 in Uncategorized

Namanya Agustin,

Sewaktu pertama kali bertemu dengannya, sambutan hangat langsung diberikannya. Gadis kecil ini begitu riang, bahkan keceriannya mampu menghapus keterharuanku saat pertama kali tiba.

Rumah-rumah sederhana, bahkan jauh untuk dikatakan layak dihuni manusia. Kardus dan papan menjadi betengnya, atap seadanya harus menaungi banyak kepala di bawahnya dari terik dan basah kala hujan tiba.

Namanya Agustin,

Gadis kecil ini begitu memikat hatiku. Gadis kecil inilah yang pertama kali menyalamiku dan memanggilku “Kakak”. Gadis kecil ini pula yang meminta digandeng tangannya, yang meminta untuk pulang bersama. Agustin bernasib sama dengan rekan-rekan lainnya, tinggal dalam lingkungan yang begitu sederhana.

Agustin saat ini sedang belajar membaca, mengenal huruf demi huruf untuk merangkainya menjadi sebuah kata. Agustin juga suka belajar matematika. Hal yang paling digemarinya. Ketika aku tiba dia selalu berseru, “Kakak, ayo sekarang kita menghitung!”. Adik kecilku ini agak kurang sabaran rupanya. Namanya juga anak-anak, begitu yang tersirat dibenakku.

Agustin belum bersekolah, tapi dia suka menipuku ketika aku bertanya, “Agustin sudah kelas berapa?”. Dengan gigi yang berongga di tengahnya, adikku ini menjawab, “Sudah kelas 5.”. Ah, dasar anak-anak, suka sekali becanda. Padahal membaca nama buah saja adikku ini masih kepayahan. Namanya juga Agustin, adik kecil periang yang suka berbohong padaku kalau mau belajar. Dengan muka anak kucingnya dia akan berkata, “Kakak, aku sudah belajar tadi, sekarang boleh menggambar ya?”. Agustin, Agustin, padahal sejak tadi dia terus-terusan bermain di sampingku.

Agustin saat ini usianya lima dan dia tengah belajar membaca Iqro satu. Masih awal, wajar, namanya juga belajar. Kadang ada huruf-huruf hijaiyah yang dia lupa. Akupun harus menulis catatan agar Agustin mengulang kembali bacaannya. Ini kedua kalinya Agustin harus mengulang pada halaman yang sama. Aku melihat betul betapa sedihnya wajah Agustin saat melihat kakak-kakak lainnya sudah jauh membaca lebih banyak halaman daripada dia. Agustin sempat membisikiku, “Kakak, kalau aku belajar pakai Al-Quran saja boleh?”. Ah, adik kecilku ini, ada-ada saja. Sabarlah adikku, suatu saat ketika sudah kau kuasai huruf-huruf itu, maka percayalah Al-Qur’an tidak akan menjadi perkara bagimu. Insya Allah.

Kakak yakin suatu saat Agustin bisa membaca Al-Qur’an, membaca cerita, menulis, dan juga pandai matematika. Itu selama Agustin mau terus belajar dan terus berusaha. Agak susah bagiku menjelaskan makna berusaha bagi adik-adikku ini. Ya Allah, berikanlah kemudahan bagiku untuk membimbing mereka agar menjadi insan yang lebih baik dalam berkarya. Ya Allah, pada kalanya nanti kesabaran ini pasti akan teruji, maka dari itu senantiasalah ingatkan aku dalam kelembutan untuk membimbing mereka.

Agustin, Weni, Shafira, Tantri, Niis, Via, Reza, Heru, dan adik-adikku lainnya. Kakak percaya suatu saat kalian bisa menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Janji-janji itu nyata adikku, kita hanya cukup percaya pada-Nya.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s