Sang Pewarna Yogyakarta

Posted: April 7, 2013 in Uncategorized

ImageMalioboro, sebuah jalan terkenal di pusat Kota Yogyakarta yang tak pernah sepi dari hingar bingar pelancongnya, mewarnai Yogya kala itu dengan beragam cerita. Tawa canda serta riuh rendah para pengelana Yogya menyemarakkan kota yang pernah menjadi ibukota negara tercinta .

Malioboro, yang membentang membelah Kota Yogyakarta, menyemaikan beragam warna di sepanjang jalannya. Hiruk pikuk kaki lima menggairahkan perekonomian Yogya di kala pagi hingga senja lenyap dari peraduannya. Musisi jalanan juga tak henti menyenandungkan simfoni khas Yogya dengan beragam caranya. Banyak hal yang kami temukan dari Yogya, di sepanjang Jalan Malioboro.

Langkah kaki ini terhenti di depan Hotel Mutiara, masih di sekitaran Jalan Malioboro. Ada sesuatu yang berbeda yang menarik hati ini. Alunan nada mengalun nyaring dari sebuah alak musik tradisonal, angklung. Nada-nada menarik dengan alunan yang unik dimainkan oleh seorang bapak tua yang duduk bersila di tepi jalan kala itu. Ada sesuatu yang berbeda dari apa yang biasanya ada. Bapak tua ini ternyata seorang penyandang tunanetra. Hati inipun sempat miris dibuatnya, ada rasa iba juga malu meledak di dalam dada. Hingga akhrinya kami beranikan kaki ini menyambangi sang bapak tua yang sedang beraksi dengan angklungnya.

Namanya adalah Pak Kemadiono. Usianya sudah bukan muda, yakni 57 tahun. Namun, tangan-tangan terampilnya masih lincah memainkan balok-balok angklung di hadapannya. Pak Kemadiono berbeda dengan seniman jalanan lainnya. Tuhan menggariskannya berbeda dengan terlahirnya beliau sebagai seorang tunanetra. Namun, keterbatasan tiada menghambat kreatifitasnya. Dengan keterbatasan yang beliau punya, beliau masih tetap semangat berkarya.

Sosok Pak Kemadiono adalah contoh sedikit dari orang-orang yang mau berusaha meski keterbatasan dimilikinya. Belajar bermain angklung sudah dilakukannya sejak tahun 1982. Di awal perjalanan hidupnya, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, bermain angklung guna mencari secerca asa menambah pundi penghasilan, pernah beliau lakukan. Hal itu dilakukannya hingga akhirnya beliau mulai menetap bermain angklung di Jalan Malioboro pada tahun 1990.

Pak Kemadiono adalah sosok yang perlu kita tiru semagat dan kegigihannya. Bermain angklung dipelajarinya secara otodidak karena beliau menganggap darah seni telah mengalir dalam dirinya, sehingga belajar angklung bukanlah suatu perkara. Bapak yang hingga sekarang masih belum dikarunia putra ini mengaku bermain angklung dilakukannya untuk mengisi keseharian daripada berdiam di rumah saja. Hal itu sekaligus guna mencari pundi penghasilan untuk menghidupi dirinya dan sang istri yang tidak lagi bekerja.

Kalaulah kalian menyempatkan diri berkunjung ke Yogya, tentunya di Malioboro, di depan Hotel Mutiara kalian bisa menemui Pak Kemadiono beraksi dengan balok-balok angklungnya dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Betapa akan tersentuh hati kalian melihat seorang yang tidak sesempurna kita, dengan keterbatasan fisiknya, begitu terampil memainkan alat musik tradisonal yang bahkan mungkin kita tak tahu cara memainkannya. Hati kamipun sempat berdesir mengingat Tuhan, betapa Dia sungguh adil memberikan suatu kelebihan di balik keterbatasan, dan manakah nikmat Tuhan yang dapat kita dustakan?

Pak Kemadiono tinggal di daerah Bantul, suatu daerah di selatan Yogyakarta. Sehari-hari beliau berangkat dari rumah menuju Kota Yogyakarta menggunakan angkutan umum. Jarak dari Bantul menuju Kota Yogya bukanlah jarak yang bisa dijangkah dengan sekejap mata. Karena jarak yang ditempuh cukuplah jauh. Namun, tiada keluhan dari Pak Kemadiono dalam melakukan kesehariannya. Yang ada justru rasa senang di dalam dada karena hobi serta bakatnya tersalurkan tiap harinya, itulah mengapa bahagia itu begitu sederhana. Keterbatasan fisik, usia yang sudah mulai renta, dan jarak yang begitu jauh tidak menghambat kreatifitas dan memupuskan semangat Pak Kemadiono. Bahkan saat kami berbincang dengannya, Pak Kemadiono begitu antusias bercerita tentang kesehariannya. Menceritakan plot-plot kisah hidupnya dan kecintaannya pada seni semata.

Di samping bekerja sebagai seniman jalanan di Kota Yogya, di daerah tinggalnya Pak Kemadiono juga memiliki grup ketoprak yang biasa ditanggap untuk pementasan. Bahkan Pak Kemadiono menjadi arsitek atau dalang dalam grup kesenian tersebut. Begitu indah cara Tuhan berbagi nikmat pada umat-Nya.

Segala yang telah dikerjakan Pak Kemadiono mengajarkan kami suatu arti dari bersyukur atas segala yang Tuhan berikan baik itu kelebihan maupun keterbatasan. Tuhan tiada pernah memberikan ujian yang melampui batas yang dapat ditanggung umat-Nya. Sebenarnya kalau saja kita mau memaknai segala yang kita miliki, sungguh begitu banyak nimat yang telah Dia berikan. Dari Pak Kemadiono, kami belajar bahwa keterbatasan bukanlah suatu hambatan. Dan dari Pak Kemadiono pula, kami merasa malu sebagai generasi muda yang mulai melemah semangatnya karena kalah dari para tetua, yang mulai melupakan kesenian asli bangsa, dan yang mulai tertutup mata pada kefanaan dunia. Sungguh banyak hal yang kami pelajari dari Pak Kemadiono. Satu hal yang berkena di hati ini adalah tiada nikmat Tuhan sedikitpun yang pantas untuk kita semua dustakan. Terkadang kita meminta banyak hal baik, tapi Tuhan tahu yang terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s