Pesan Dari Membaca

Posted: November 9, 2012 in Jurnal Ceritaku

Masa kecil adalah masa yang identik dengan kebahagiaan, pasti juga penuh akan mainan. Tapi, tidak denganku. Sewaktuku kecil, aku lebih dahulu mengenal buku daripada mengenal mainan. Ya, itu sungguhan terjadi. Ayahku adalah seorang yang begitu maniak membaca, apapun bacaanya. Kata Ayah, manusia itu menjadi banyak tahu karena membaca. Jadi, sejak aku kecil Ayah sudah mengenalkanku lebih dahulu dengan buku. Dari mulai buku bergambar biasa, hingga buku canggih yang aku miliki saat itu. Di buku itu ada jarum jam yang bisa bergerak sendiri, itu canggih buatku. Buku mengenai pelajaran mengenal waktu.

Sejak umurku 5 tahun bahkan, aku sudah bisa menghapal 48 nama partai pemilu 1999. Lengkap dengan nomor urut dan siapa pemimpin partainya. Semua juga gara-gara Ayah. Dulu Ayah memberikanku gambar peserta pemilu dan gambar tokoh pemimpinnya. Di situlah aku mulai dikenal tetangga sebagai anak yang aneh. Karen di saat teman-teman yang lain sibuk bermain mobil-mobilannya, aku sudah bisa membaca koran waktu itu dan mulai suka bertanya-tanya tentang politik masa itu. Karena itu jugalah aku sangat suka dengan Amien Rais. Wajar, karena di tahun 1997-1998 wajah beliau lah yang selalu menghiasai layar kacaku. Bahkan kalau sedang ada beliau di layar kaca, aku akan menghalangi semua orang untuk melihatnya. Hanya aku yang boleh melihat.

Aku kecil adalah anak yang serba ingin tahu. Suatu ketika aku bertanya pada kakakku, kenapa langit berwarna biru? Kakakku menjawab sekenanya. Aku tanya pada Ibu pun hanya di jawab sekenanya, tanpa dalil yang jelas. Lalu kutanyakan pada Ayah, Ayah tidak menjawabnya. Namun, di esok harinya Ayah memberiku buku komik “Rahasia Pengetahuan”, di situlah aku mulai tahu kenapa langit berwarna biru. Selanjutnya ketika aku bertanya apa ibukota Suriname, saat itu juga Ayah langsung mengajakku ke daerah Maester Jatinegara, di situ aku dibelikan buku pintar seri junior. Aku khatam membaca buku tebal itu. Buku itu pun kubawa tidur sampai-sampai terbawa dalam mimpiku. Lalu, saat usiaku 6, Ayah menggantinya dengan buku pintar seri senior yang sampulnya berwarna jingga. Lebih tebal dan lebih berat. Tapi aku suka dengan buku itu. di saat teman-teman yang lain pamer akan tamiya-nya aku dengan bangga pergi bermain dengan menenteng buku itu.

 

Kata Ayahku, kalau aku mau mebaca buku maka aku akan menjadi banyak tahu.

 

Kata Ayahku, kalau aku mau mebaca buku maka aku akan menjadi banyak tahu. Maka di situlah Ayah sering mengajakku ke toko buku. Ayah begitu rutin membelikanku buku, tapi tidak untuk mainan. Jangan harap Ayah akan membelikanku itu, walaupun aku harus merengek tersedu-sedu. Tapi ketika aku meminta dibelikan buku Ayah akan dengan siap sedia membelikannya. Hal itu bahkan masih berlanjut sampai kuliah ini. Tiap kali aku minta uang untuk membeli buku, Ayah tak segan-segan memberi uang yang banyak untuk itu. Tapi ketika aku meminta uang untuk membeli baju baru, kata Ayah, “Yang lama masih bagus kan?”. Hanya seperti itu. Ya begitulah watak Ayahku. Tapi aku sadar manfaat dari semua itu. Membaca. Ya, membaca saat ini menjadi hal yang paling menyenangkan bagiku. Dalam sebulan bisa banyak buku yang aku selesaikan. Semua juga karena Ayah, aku meniru apa yang dilakukannya. Satu kebiasaan Ayah yang masih membuatku sedikit bingung adalah setiap hendak ke toilet Ayah selalu mambawa bacaan. Di sana Ayah bisa berlama-lama. Bahkan Ayah bercerita ingin membuat toilet yang luas dengan  perpustaakaan si dalamnya. Sungguh aneh perangai Ayahku. Tapi di balik semua itu, ya itulah poin lebih Ayahku menurutku. Aku merasa beruntung karena Ayah mengajarkanku untuk menyukai buku sejak kecilku. Banyak anak-anak zaman sekarang yang melihat buku saja sudah enggan, apalagi membacanya. Padahal di dalam sebuah buku kita bisa berfantasi tentang semua hal yang terjadi. Buku mengajarkanku begitu banyak ilmu dan buku mengajarkanku untuk memiliki fantasi dan imajinasi. Buku adalah jendela dunia, itu lah poster yang Ayah pasang di kamarku dulu sebagai pengingat betapa pentingnya arti membaca. Kalau hendak melihat dunia, haruslah banyak membaca.

 

Kalau hendak melihat dunia, haruslah banyak membaca.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s