Menghargai Profesi Seorang Ibu

Posted: November 8, 2012 in Jurnal Ceritaku
Tags:

ImageMungkin di antara beberapa temanku yang lain, aku termasuk salah satu anak yang beruntung. Sejak kecil murni aku diasuh oleh Ibu, bahkan kakak-kakakku yang lain tiada merasakan ini. Dulu Ibu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Hal itu guna menunjang penghasilan Ayah sebagai PNS, yang di jaman sebelum reformasi dulu gajinya masih berbilang tak seberapa. Akibatnya, kakak-kakakku yang lain harus rela ditinggal Ibu kerja setiap hari, dan bertemu sorenya kembali. Tapi tidak denganku, sejak kelahiranku Ibu memutuskan untuk resign dari kantornya. Ibu memilih fokus untuk mengasuh anak laki-laki pertamanya. Konsekuensinya Ibu harus rela meninggalkan penghasilannya yang bisa dibilang lumayan untuk tinggal di Jakarta, yang konon katanya serba mahal kebutuhan di sana. Aku bahagia, sejak kecil Ibu sendirilah yang merawatku. Beda dengan kakak-kakakku, dulu mereka diasuh oleh orang lain ketika Ibu kerja. Inilah yang membuatku penuh akan cinta Ibu dan aku merasa amat sangat dekat dengan Ibu. Tiap pulang sekolah dulu yang aku temui pertama adalah Ibu. Ibu akan menyuapiku makan siang karena malasnya aku saat kanak-kanak untuk makan. Bahkan ketika aku kabur untuk bermain bersama temanku, Ibu dengan sepeda akan keliling gang mencariku, menyuruhku untuk makan. Sedikit membuat jengah, tapi di sinilah nikmatnya. Letak perbedaan nikmat yang aku rasa dengan kedua kakakku.

Saat kedua kakakku kecil, pulang sekolah yang mereka temui pertama adalah pengasuh, kami memangilnya “Mbak”. Yang menyuapi makan siang mereka juga Mbak, yang menemani tidur siang mereka juga Mbak. Sedangkan aku, begitu bahagianya aku, tidur siangku selalu di samping Ibu. Sebelum itu Ibu selalu menanyakan keadaan di sekolahku, apa aku bisa mengikuti pelajaran dan berapa nilai yang aku dapatkan di sekolah tadi? Setelah itu Ibu menemaniku mengerjakan PR sebelum tidur siang. Beda dengan kakak-kakakku, mereka lebih seperti anak Mbak daripada anak Ibu. Sungguh, ini adalah hanya sepersekian dari begitu banyak nikmat yang aku miliki dari kebersamaan dengan Ibu saat kecil dulu.

Ibuku memang sudah tidak bekerja lagi, tapi bukan berarti dia tidak memiliki pekerjaan.

Ibuku memang sudah tidak bekerja lagi, tapi bukan berarti dia tidak memiliki pekerjaan. Suatu ketika saat Idul Adha yang lalu aku membantu teman wanitaku untuk memasak daging hasil kurban kelas kami. Hanya sekali memasak padahal, tapi rasanya sudah sangat lelah yang amat sangat. Hanya sekali! Tiba-tiba aku teringat Ibu di rumah. Tiap pagi Ibu bangun sebelum adzan Shubuh berkumandang, membangunkan kami anak-anaknya untuk bersiap ibadah. Bahkan beberapa jam sebelum itu Ibu sudah siap menanak nasi guna sarapan kami sekeluarga. Setelah itu Ibu berkutat dengan dapur, berpanas-panas dengan api dan asap. Berkutat dengan tajamnya pisau dapur. Bahkan aku saja yang baru sekali memasak, tanganku sudah teriris dalam karena pisau, lalu bagaimana dengan Ibu yang sudah menjadi hari-harinya berkutat di dapur? Sudah berapa kali tangan Ibuku tergores pisau? Puluhan, ah mungkin sudah lebih dari sekedar ratusan. Tapi tiada sekali aku melihat Ibu mengeluhkan itu.

Tidak berhenti di situ, pukul setengah 6 pagi biasanya semua hal sudah siap dihidangkan di atas meja, Ibu yang melakukan semua itu. Semua Ibu persiapkan dini agar kami tidak terlambat dengan aktivitas masing-masing. Seusai sarapan Ibu akan mencuci semua perkakas makan yang baru kami gunakan. Nanti tengah hari pasti sudah ada makanan baru lagi di atas meja. Ibu memasakan kembali siang hari. Astaga, sekuat itukah tenaga Ibuku? Bahkan aku yang saat lalu memasak bersama teman-temanku saja sudah begitu marahnya karena banyak yang tidak membantu. Sedangkan Ibu, siapa yang membantu Ibu saat tidak ada orang di rumah pagi itu? Aku jadi sangat merasa malu terhadap Ibu, Ibu jarang mengeluh untuk itu, beda denganku.

Saat sore hari biasanya Ibu tidak terdiam begitu saja, Ibu penuh aktivitas di daerah kami. Ibu adalah penggerak PKK, biasanya Ibu kumpul PKK atau arisan bersama temannya. Kalau arisan libur, Ibu memilih mengaji di tempat tetangga. Nanti saat sore menjelang Ibu kembali pulang. Kembali Ibu menyiapkan makanan untuk Ayah yang biasanya pulang saat sore. Sudahkah selesai sampai di situ? Tidak. Saat malam usai Maghrib terlewati, Ibu kembali memasakan menyiapkan untuk makan malam kami. Memasak lagi? Ya, Ibuku selalu memilih memasak daripada membeli. Kata Ibu selama masih bisa memasak sendiri kenapa harus membeli? Dan makanan Ibu rasanya adalah yang nomor 1 buatku. Sungguh, begitu kagum aku kepada Ibu, ternyata begitu berat profesi seorang Ibu. Tidak hanya sebatas memasak itu saja. Tapi juga mencuci, membersihkan rumah, dan lain-lainnya. Aku jadi merasa malu karena jarang sekali aku membantu Ibu.

Ya Tuhan, sehatkanlah Ibu, sehatkanlah Ibu, sehatkanlah Ibuku!

Biarkan setiap helai ubannya menjadi pengingat bagi kami anak-anaknya, betapa keras kerja menjadi Ibu.

Sehatkanlah Ibu!

Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia selalu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s