Agustin, Adik Baruku

Posted: April 17, 2013 in Uncategorized

Namanya Agustin,

Sewaktu pertama kali bertemu dengannya, sambutan hangat langsung diberikannya. Gadis kecil ini begitu riang, bahkan keceriannya mampu menghapus keterharuanku saat pertama kali tiba.

Rumah-rumah sederhana, bahkan jauh untuk dikatakan layak dihuni manusia. Kardus dan papan menjadi betengnya, atap seadanya harus menaungi banyak kepala di bawahnya dari terik dan basah kala hujan tiba.

Namanya Agustin,

Gadis kecil ini begitu memikat hatiku. Gadis kecil inilah yang pertama kali menyalamiku dan memanggilku “Kakak”. Gadis kecil ini pula yang meminta digandeng tangannya, yang meminta untuk pulang bersama. Agustin bernasib sama dengan rekan-rekan lainnya, tinggal dalam lingkungan yang begitu sederhana.

Agustin saat ini sedang belajar membaca, mengenal huruf demi huruf untuk merangkainya menjadi sebuah kata. Agustin juga suka belajar matematika. Hal yang paling digemarinya. Ketika aku tiba dia selalu berseru, “Kakak, ayo sekarang kita menghitung!”. Adik kecilku ini agak kurang sabaran rupanya. Namanya juga anak-anak, begitu yang tersirat dibenakku.

Agustin belum bersekolah, tapi dia suka menipuku ketika aku bertanya, “Agustin sudah kelas berapa?”. Dengan gigi yang berongga di tengahnya, adikku ini menjawab, “Sudah kelas 5.”. Ah, dasar anak-anak, suka sekali becanda. Padahal membaca nama buah saja adikku ini masih kepayahan. Namanya juga Agustin, adik kecil periang yang suka berbohong padaku kalau mau belajar. Dengan muka anak kucingnya dia akan berkata, “Kakak, aku sudah belajar tadi, sekarang boleh menggambar ya?”. Agustin, Agustin, padahal sejak tadi dia terus-terusan bermain di sampingku.

Agustin saat ini usianya lima dan dia tengah belajar membaca Iqro satu. Masih awal, wajar, namanya juga belajar. Kadang ada huruf-huruf hijaiyah yang dia lupa. Akupun harus menulis catatan agar Agustin mengulang kembali bacaannya. Ini kedua kalinya Agustin harus mengulang pada halaman yang sama. Aku melihat betul betapa sedihnya wajah Agustin saat melihat kakak-kakak lainnya sudah jauh membaca lebih banyak halaman daripada dia. Agustin sempat membisikiku, “Kakak, kalau aku belajar pakai Al-Quran saja boleh?”. Ah, adik kecilku ini, ada-ada saja. Sabarlah adikku, suatu saat ketika sudah kau kuasai huruf-huruf itu, maka percayalah Al-Qur’an tidak akan menjadi perkara bagimu. Insya Allah.

Kakak yakin suatu saat Agustin bisa membaca Al-Qur’an, membaca cerita, menulis, dan juga pandai matematika. Itu selama Agustin mau terus belajar dan terus berusaha. Agak susah bagiku menjelaskan makna berusaha bagi adik-adikku ini. Ya Allah, berikanlah kemudahan bagiku untuk membimbing mereka agar menjadi insan yang lebih baik dalam berkarya. Ya Allah, pada kalanya nanti kesabaran ini pasti akan teruji, maka dari itu senantiasalah ingatkan aku dalam kelembutan untuk membimbing mereka.

Agustin, Weni, Shafira, Tantri, Niis, Via, Reza, Heru, dan adik-adikku lainnya. Kakak percaya suatu saat kalian bisa menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Janji-janji itu nyata adikku, kita hanya cukup percaya pada-Nya.

Image

Mengingat Masa TK

Posted: April 7, 2013 in Uncategorized

Alkisah sore ini aku kembali bernostalgia dengan fantasi-fantasi masa kecilku dulu. Bukan Imagedengan melihat kartun tentunya, atau bahkan dengan balapan beradu tamiya. Ini adalah memori yang kubuka dari lembaran foto-fotoku zaman TK dulu.

Kalau ada orang yang bilang masa kecilku begitu lucu, aku jamin mereka tidaklah keliru. Pipi gempal bergelayut di kedua belah bagian wajahku. Gigi yang hanya berjumlah dua mebuatku saja gemas pada diriku saat itu. Seandainya diri ini masih bisa ke masa muda.

Aku teringat beberapa kisah lucu saat masa TK dulu. Berebut mainan, saling cakar, bermain bersama, ternyata begitu banyak kenangan yang kudapat semasa TK. Aku bahkan baru tahu kalau sebenarnya TK itu seharusnya ditempuh 2 tahun masa didikan. Maka dari itu, sering kita dengar ada kelas 0 kecil dan 0 besar. Tapi, sewaktuku TK dulu, aku cukup setahun saja belajar bersama guru dan kawan yang begitu menyenangkan. Jadi, pantas saja kalau aku tak pernah tahu ketika ditanya, “Kelas 0 kecil apa kelas 0 besar?”. Setahuku waktu itu, TK ya TK, ya berarti kelas 0, itu saja titik.

Sekarang aku merasa geli sendiri dengan diriku ini. Tahun depan genap kepala dua usiaku dan aku masih merasa beberapa sifat saat TK dulu masih sering terbawa dalam hidupku. Apalagi kalu bukan berebut mainan bersama adikku yang ujung-ujungnya berakhir dengan saling cakar. Terutama karena masalah remote TV yang tiada pernah menemui titik terang hingga saat ini.

Ahh, masa TK itu, ternyata masih saja beberapa hal sama dari diriku sejak kala TK dulu.

Sang Pewarna Yogyakarta

Posted: April 7, 2013 in Uncategorized

ImageMalioboro, sebuah jalan terkenal di pusat Kota Yogyakarta yang tak pernah sepi dari hingar bingar pelancongnya, mewarnai Yogya kala itu dengan beragam cerita. Tawa canda serta riuh rendah para pengelana Yogya menyemarakkan kota yang pernah menjadi ibukota negara tercinta .

Malioboro, yang membentang membelah Kota Yogyakarta, menyemaikan beragam warna di sepanjang jalannya. Hiruk pikuk kaki lima menggairahkan perekonomian Yogya di kala pagi hingga senja lenyap dari peraduannya. Musisi jalanan juga tak henti menyenandungkan simfoni khas Yogya dengan beragam caranya. Banyak hal yang kami temukan dari Yogya, di sepanjang Jalan Malioboro.

Langkah kaki ini terhenti di depan Hotel Mutiara, masih di sekitaran Jalan Malioboro. Ada sesuatu yang berbeda yang menarik hati ini. Alunan nada mengalun nyaring dari sebuah alak musik tradisonal, angklung. Nada-nada menarik dengan alunan yang unik dimainkan oleh seorang bapak tua yang duduk bersila di tepi jalan kala itu. Ada sesuatu yang berbeda dari apa yang biasanya ada. Bapak tua ini ternyata seorang penyandang tunanetra. Hati inipun sempat miris dibuatnya, ada rasa iba juga malu meledak di dalam dada. Hingga akhrinya kami beranikan kaki ini menyambangi sang bapak tua yang sedang beraksi dengan angklungnya.

Namanya adalah Pak Kemadiono. Usianya sudah bukan muda, yakni 57 tahun. Namun, tangan-tangan terampilnya masih lincah memainkan balok-balok angklung di hadapannya. Pak Kemadiono berbeda dengan seniman jalanan lainnya. Tuhan menggariskannya berbeda dengan terlahirnya beliau sebagai seorang tunanetra. Namun, keterbatasan tiada menghambat kreatifitasnya. Dengan keterbatasan yang beliau punya, beliau masih tetap semangat berkarya.

Sosok Pak Kemadiono adalah contoh sedikit dari orang-orang yang mau berusaha meski keterbatasan dimilikinya. Belajar bermain angklung sudah dilakukannya sejak tahun 1982. Di awal perjalanan hidupnya, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, bermain angklung guna mencari secerca asa menambah pundi penghasilan, pernah beliau lakukan. Hal itu dilakukannya hingga akhirnya beliau mulai menetap bermain angklung di Jalan Malioboro pada tahun 1990.

Pak Kemadiono adalah sosok yang perlu kita tiru semagat dan kegigihannya. Bermain angklung dipelajarinya secara otodidak karena beliau menganggap darah seni telah mengalir dalam dirinya, sehingga belajar angklung bukanlah suatu perkara. Bapak yang hingga sekarang masih belum dikarunia putra ini mengaku bermain angklung dilakukannya untuk mengisi keseharian daripada berdiam di rumah saja. Hal itu sekaligus guna mencari pundi penghasilan untuk menghidupi dirinya dan sang istri yang tidak lagi bekerja.

Kalaulah kalian menyempatkan diri berkunjung ke Yogya, tentunya di Malioboro, di depan Hotel Mutiara kalian bisa menemui Pak Kemadiono beraksi dengan balok-balok angklungnya dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Betapa akan tersentuh hati kalian melihat seorang yang tidak sesempurna kita, dengan keterbatasan fisiknya, begitu terampil memainkan alat musik tradisonal yang bahkan mungkin kita tak tahu cara memainkannya. Hati kamipun sempat berdesir mengingat Tuhan, betapa Dia sungguh adil memberikan suatu kelebihan di balik keterbatasan, dan manakah nikmat Tuhan yang dapat kita dustakan?

Pak Kemadiono tinggal di daerah Bantul, suatu daerah di selatan Yogyakarta. Sehari-hari beliau berangkat dari rumah menuju Kota Yogyakarta menggunakan angkutan umum. Jarak dari Bantul menuju Kota Yogya bukanlah jarak yang bisa dijangkah dengan sekejap mata. Karena jarak yang ditempuh cukuplah jauh. Namun, tiada keluhan dari Pak Kemadiono dalam melakukan kesehariannya. Yang ada justru rasa senang di dalam dada karena hobi serta bakatnya tersalurkan tiap harinya, itulah mengapa bahagia itu begitu sederhana. Keterbatasan fisik, usia yang sudah mulai renta, dan jarak yang begitu jauh tidak menghambat kreatifitas dan memupuskan semangat Pak Kemadiono. Bahkan saat kami berbincang dengannya, Pak Kemadiono begitu antusias bercerita tentang kesehariannya. Menceritakan plot-plot kisah hidupnya dan kecintaannya pada seni semata.

Di samping bekerja sebagai seniman jalanan di Kota Yogya, di daerah tinggalnya Pak Kemadiono juga memiliki grup ketoprak yang biasa ditanggap untuk pementasan. Bahkan Pak Kemadiono menjadi arsitek atau dalang dalam grup kesenian tersebut. Begitu indah cara Tuhan berbagi nikmat pada umat-Nya.

Segala yang telah dikerjakan Pak Kemadiono mengajarkan kami suatu arti dari bersyukur atas segala yang Tuhan berikan baik itu kelebihan maupun keterbatasan. Tuhan tiada pernah memberikan ujian yang melampui batas yang dapat ditanggung umat-Nya. Sebenarnya kalau saja kita mau memaknai segala yang kita miliki, sungguh begitu banyak nimat yang telah Dia berikan. Dari Pak Kemadiono, kami belajar bahwa keterbatasan bukanlah suatu hambatan. Dan dari Pak Kemadiono pula, kami merasa malu sebagai generasi muda yang mulai melemah semangatnya karena kalah dari para tetua, yang mulai melupakan kesenian asli bangsa, dan yang mulai tertutup mata pada kefanaan dunia. Sungguh banyak hal yang kami pelajari dari Pak Kemadiono. Satu hal yang berkena di hati ini adalah tiada nikmat Tuhan sedikitpun yang pantas untuk kita semua dustakan. Terkadang kita meminta banyak hal baik, tapi Tuhan tahu yang terbaik.

Dahulu kala ketika kukecil, sering kali aku merasa bahwa kebahagian itu adalah ketika besar nanti aku bisa menjadi seorang dokter. Kenapa dokter? Karena buatku menjadi seorang dokter memberikan kesan bahwa aku adalah orang yang luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena seorang dokter adalah orang yang sangat berani bergerak dan berani bertindak, tidak hanya dengan kelengkapan anggota tubuhnya saja, tapi juga dengan hatinya. Apa jadinya bila seorang dokter tidak memiliki hati yang lembut yang bisa menenangkan? Mungkin pasien sakit akan bertambah parah sakitnya. Itulah mengapa ketika kukecil, aku amat mengagumi dan bercita-cita menjadi dokter.

Ketika beranjak duduk di bangku SMP, aku mulai berpikir ulang bahwa tanggung jawab seorang dokter amatlah berat karena menyangkut masalah kelangsungan hidup manusia. Lalu, aku berpikir seandaianya kelak aku menjadi pengajar saja bukan seorang dokter. Kenapa mengajar? Karena hal sederhana ini diilhami dari Ayahki tercinta. Dia adalah seorang pengajar. Usianya sudah lebih dari separuh abad masa keemasan hidup. Tapi, ada yang membuatnya selalu terlihat berbeda ketika usai bekerja. Senyum tak pernah lepas tersungging dari wajahnya yang menenangkan. Ayahku adalah orang yang begitu penuh cinta dan kasih sayang luar biasa, tak henti-hentinya kukagumi dirinya. Suatu ketika aku pernah bertanya padanya, “Yah, apa asyiknya menjadi seorang pengajar?”. Ayah  menjawab, “Lebih banyak lelahnya karena kamu harus menghadapi banyak anak-anak dengan kepribadian yang berbeda.”. Kemudian aku kembali bertanya, “Kenapa Ayah masih betah menjadi seorang pengajar kalau begitu?”. Dan jawaban akhir dari Ayah adalah, “Karena senyum mereka, tawa mereka, canda mereka, akan selalu membuat kita rindu untuk terus bertemu.”. Rindu bertemu dalam suatu majelis Ilmu adalah hal yang bagiku begitu luar biasa. Aku ingin menjadi sosok seperti Ayah yang selalu bahagia.

Namun, kejadiannya berbeda lagi ketika akhirnya aku duduk di bangku SMA. Ternyata aku mulai berpikir lagi bahwa menjadi pengajar tanggung jawabnya justru lebih berat dibanding menjadi seorang dokter. Pengajar adalah gurunya para dokter, tiada berdaya seorang dokter yang hebat sekalipun tanpa seorang pengajar yang luar biasa di masa kecilnya. Akupun merasa bahwa diriku masih jauh dari siap untuk memikul tanggung jawab sebesar itu. Karena di hari akhir nanti kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing. Pencarian “Akan jadi apa aku kelak?” masih terus terbenak di dalam diri ini. Akan jadi apa aku nanti? Apa yang akan aku lakukan? Dan apa yang bisa kukerjakan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih saja membekas dalam diri hingga akhirnya aku berpikir pada suatu profesi yang lebih terlihat gagah, yaitu polisi. Keluargaku adalah keluarga polisi, semua adik Ayah bekerja sebagai polisi, dan sepupu-sepupuku juga berseragamkan pamong masyarakat itu. Jadi, aku dikelilingi para pamong masyarakat yang berada dalam lingkaran keluarga. Kenapa polisi? Karena selain terlihat gagah, menjadi polisi juga merupakan amanah yang tidak kalah hebatnya dari menjadi dokter maupun pengajar. Membimbing dan mengayomi masyarakat adalah pekerjaan mulia, aku berpikir bahwa mungkin kebahagian bisa kudapatkan dari sana.

Tapi ternyata belakang ini aku mulai berpikir pada tujuan akhir hidupku. Ternyata aku hanya menginginkan menjadi seorang yang bahagia. Orang yang dikelilingi malaikat-malaikat kecil pada masa tua dengan seorang bidadari yang membawa separuh hatiku nanti. Orang yang sejak masa muda terbiasa berjalan dengan masalah, namun senyum tetap melekat di bibirnya. Orang yang menghabiskan masa muda karena persahabatan dan persaudaraan. Orang yang bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Orang yang senantiasa merasa senang bila berbagi. Dan orang yang tak pernah lepas dari cinta pada agama dan Tuhannya, Allah SWT.

Bagiku, hakikat hidup yang sebenarnya adalah mencari kebahagian. Bahagia yang seperti apa? Bahagia itu adalah hal yang relatif bagi tiap kepala. Untukku pribadi, bahagia adalah ketika aku bisa merasakan sensasi sejuknya es krim di tengah terik matahari misalnya, itu adalah sebagian kecil dari kebahagiaan. Menjadi apapun aku nanti ketika diri ini tidak pernah merasa bahagia, maka hal itu akan terasa sia-sia. Bahagia haruslah menajdi inti dari setiap hal yang kelak kukerjakan dan kulakukan.

Jadi, bahagia bagiku adalah hal yang paling utama yang akan menjadi tujuan akhir hidupku kelak. Dalam karir, mungkin kebahagian itu adalah ketika kelak aku bisa bekerja sepenuh hati mengabdi bagi negara di Kementerian Keuangan. Menjadi punggawa keuangan negara yang memimpin pengelolaan keuangan negara. Dalam dunia kerja nanti pastinya aku akan merasa lelah usai bekerja. Wajar karena pasti pikiran dan perasaan akan tersita guna mengabdi demi pembangunan  negara yang jauh lebih baik. Hal itu akan menjadi salah satu dari kebahagian apabila negara ini memiliki pengelolaan keuangan yang semakin baik pula. Itu artinya perjuanganku dan rekan-rekan nanti tiada berbuah sia-sia. Lalu? Tentunya aku akan bahagia pada akhirnya. Bahagia itu ternyata sederhana. Bahkan, aku akan berbahagia lagi ketika pencapaian karir ini diiringi dengan dorongan istri yang luar biasa serta semangat dari anak-anak kami kelak nantinya. Ketika lelahnya bekerja terasa, maka hangatnya keluarga adalah penawarnya. Bahagianya hidup berawal dari bahagianya hati, jadi aku sudah mendambakan keluarga yang bahagia dalam mendampingi perjalanan karirku ke depannya.

Lalu apakah aku tidak mengingkan hal spesifik dalam dunia karirku nanti? Tentunya semua orang punya keinginan untuk itu. Lalu apa yang aku mau? Sederhana, aku tetap hanya ingin bahagia dengan profesiku sebagai punggawa keuangan negara. Aku cuma perlu bekerja lebih keras dengan hati yang bahagia, maka aku tidak akan pernah menyesal atas hasil kerjaku nantinya. Karena kebahagian akan sirna ketika kita tidak menghargai hasil kerja kita sendiri. Bagaimana dengan pencapaian pangkat yang lebih tinggi lagi? Tentunya sebagian besar orang akan tergiur dengan hal itu, sama juga denganku. Aku juga menginginkan hal itu. Tapi, jujur saja aku benar-benar belum bisa berpikir sampai level mana pangkat yang benar-benar kuharapkan. Karena orientasiku saat ini adalah mencari bahagia dan ridho Yang Maha Kuasa. Aku cuma perlu hidup bahagia. Aku ingin menghabiskan masa tua dengan bahagia bersama keluarga dan cucu-cucuku yang lucu-lucu kelak nantinya. Dan untuk menutup lembaran hidup ini, aku ingin mati dengan cara yang bahagia pula karena ketika hidup di dunia saya selalu merasa bahagia. Orang bahagia adalah orang yang tiada pernah menyesal pada akhir hayatnya.

Image

Tuhan Tahu Tapi Menunggu

Posted: November 24, 2012 in Uncategorized
Tags:

Di beberapa saat lalu sempat aku bercerita tentang betapa irinya aku pada teman lain yang bisa dekat dengan Ibu setiap hari saat-saat remajanya. Betapa tidak, aku sangat merasa rindu karena sejak SMP hingga semeseter 5 ini masih aku terpisah jauh dengan Ibu. Jauh, jarak yang teramat jauh, lebih dari 600 kilometer. Kalau teman-teman sebayaku dulu masih setiap hari bertemu Ibu, aku hanya merasakan itu sampai usiaku 11. Lepas SD kasih sayang Ibu teramat jauh jaraknya bagiku, walaupun hangatnya masih terasa di hati. Berarti ini adalah tahun ke-8 aku terpisah  jarak dengan Ibu. Derita anak kost kalau seperti ledek teman-temanku.

Hari ini entah Tuhan mendengar jawabku atau bagaimana aku tak tahu. Yang pasti hari ini ada sedikit kabar gembira dari secerca doa yang pernah kuminta lalu. Aku mendapatkan materi  PKL guna kelulusanku nanti “Pelaksanaan Anggaran”. Itu berarti aku bisa memilih tempat PKL di Purworejo, kota masaku dihabiskan menuntut ilmu, dan kota tempat Ibuku sekarang berada. Sungguh terima kasih Tuhan, walaupun harus menunggu 8 tahun penantian akhirnya tiba juga masa ini. Kembali ke peraduanku, kembali bertemu Ibu. Buncah isi dada ini membayangkan wajah Ibu, senyumnya, uban-uban di kepalanya, serta masakan terlezat nomor satu di dunia buatannya.

Terima kasih, Tuhan. Walaupun materi ini bukan yang aku harapkan, tapi setidaknya ada kegembiraan di balik semua ini. Akhirnya aku akan bertemu dengan Ibu dalam waktu yang cukup lama. Sungguh semua telah Engkau rencanakan, saat-saat ini adalah saat aku begitu membutuhkan Ibu di sampingku. Aku tak tahu entah kapan sakit dalam tubuhku masih bisa berkompromi dengan tubuhku. Aku sungguh sangat membutuhkan Ibu di sampingku saat ini. Dan Engaku, Tuhan, sungguh begitu indah rencana-Mu untukku. Alhamdulillah. Semoga aku bisa melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya saat berada dengan cinta sepanjang hayatku, Ibuku.

Suatu ketika Ayah pulang dari tempatnya bekerja, tangannya menggenggam sebungkus plastik hitam. Sudah aku terka dari baunya, itu martabak coklat kacang kesukaanku. Dan ternyata benar, memang itu yang Ayah bawa. Kami pun menyerbu bungkusan yang Ayah bawa. Bau martabak hangat begitu amat menggoda, dengan lelehan coklat yang semakin menambah selera. Kami berebut, satu-dua kakak tertuaku mengambil jatahnya, disusul kakak keduaku dan aku tentunya. Aku makan dengan lahapnya. Tiba-tiba ada satu sisa potongan di atas meja. Ibu pun mengabilnya, hanya menggigit ujungnya dan memberikannya pada Kak Dhita, nama kakakku yang kedua.

Aku pun marah.

Aku marah karena merasa Ibu begitu pilih kasih pada kakakku yang satu ini. Ayah pun begitu. Aku kecil begitu amat iri dengan Kak Dhita. Dialah yang selalu Ayah banggakan. Aku iri tiap kali Ayah menyuruhku untuk berlaku spertinya. Kakakku yang satu itu memang anak yang wajar untuk dibanggakan. Sungguh elok perangainya. Senyumnya begitu manis, giginya begitu rapi, dan kacamata cantik menghiasai wajah kanak-kanaknya yang masih lugu kala itu. Sudah bisa ditebak , pastinya kakakku ini adalah kutu buku, dan memang. Berbeda dengan aku yang amat dekat dengan Iku, kakkku ini begitu dekat dengan Ayahku.

Kakakku ini adalah anak yang begitu rajin bekerja membantu Ibu.Membantu Ibu menucuci piring, membantu Ibu membersihkan rumah, dan jadwal rutinnya tiap sore yaitu menutup jendela dan korden tanpa disuruh terlebih dahulu. Beda denganku yang walaupun sudah disuruh tapi tetap enggan melakukannya. Kakakku ini juga merupakan anak yang begitu cerdas, tak pernah lepas dari peringkat 1. Sebenarnya dia adalah sosok kakak yang begitu amat baik untukku. Tiap kali pulang sekolah tak pernah lupa dibawakannya aku permen yang ia beli dari uang sakunya. Tapi tetap saja, aku selalu merasa iri dengannya, karena tiap kali aku bermalas-malasan Ibu akan memarahiku dan menyuruhku untuk meniru Kak Dhita. Aku tak suka dibandingkan. Kerap aku coba untuk mengganggunya, mulai dari menyembunyikan buku sekolahnya hingga mencukur gundul boneka barbie-nya. Tapi dia biasa saja, seolah menganggapku hanya berlaku selayaknya anak kecil biasa. Dia tak pernah tahu bahwa sesungguhnya di dalam dadaku buncah akan rasa iri terhadapnya.

Hingga suatu ketika persitiwa itu terjadi. Aku merasa dia akan pergi jauh meninggalkanku, aku pun bilang pada Ibu dan malah Ibu marah-marah padaku. Menyuruhku untuk tidak berbicara macam-macam. Itu semakin membuatku merasa disisihkan, merasa kakakku lebih diutamakan. Aku makin iri dengannya. Siang itu kakakku berpamitan untuk pergi mengerjakan tugas sekolahnya pada Ibu. Dengan membawa sepeda mininya, aku merasa ada suatu yang ganjil dengan itu. Aku ingat perintah Ibu untuk tidak macam-macam, aku pun diam. Siang itu tiada permen dari kakakku. Aku pun hanya bermain di luar rumah seperti biasa. Tiba-tiba teman kakakku datang berlari ke rumah sambil sesenggukan. Aku masuk ke dalam rumah dan mamangil Ibu, tak paham apa yang terjadi. Tiba-tiba Ibu terdiam, Ibu teriak sejadi-jadinya, Ibu menangis. Aku tak mengerti. Ibu pun pergi segera saat itu, aku tak tahu ke mana. Aku di rumah ditunggui tetanggaku sampai kakak pertamaku pulang sekolah. Sore tiba hingga malam pun menjelang, Ibu tak kunjung pulang dan Ayah jua tak ada. Aku mulai bertanya-tanya pada kakakku. Ke mana Ibu? Ke mana Ayah? Ke mana mereka? Kakakku hanya menyuruh sabar. Aku mulai menangis dan kakakku menghardikku dengan bahasa yang tak dapat ku tangkap maksudnya.

Aku marah saat itu, aku berpikir Ibu dan Ayah sedang pergi dengan Kak Dhita tanpa mengajakku. Aku rindu Ibu, aku takut sendirian, aku tak mau di rumah tanpa Ibu. Aku mulai hilang kendali, kubanting segala benda di dalam rumah. Kakak pertamaku tidak marah, dia justru menangis sejadi-jadinya.

Akhirnya esok tiba, Ibu dan Ayah masih belum kembali. Kakakku sudah bersiap berangkat sekolah, tante lah yang mengurusku pagi itu. Aku sedang malas, aku pilih bolos sekolah, aku sedang benci dengan Ibu, Ayah dan Kak Dhita. Aku benci mereka. Hingga malam tiba aku masih enggan makan, tanteku bingung, aku masih marah. Hingga tiada kuasa mataku menahan kantuk menunggu Ibu pulang ke rumah, aku tertidur.

Pagi Shubuh pun tiba, aku terbangun karen suasana ramai rumahku. Banyak orang di sini, Ibu dan Ayah sudah kembali. Aku berjalan ke ruang tengah dengan mambawa tas kecilku yang aku persiapkan untuk kabur dari rumah mencari Ibu malam sebelumnya. Tiba-tiba kakiku terhenti setelah terhadap pada kerumunan tetangga. Kakak tertuaku terlihat duduk di pojok ruang dengan wajah sendunya. Ada meja di ruang itu dan kulihat Kak Dhita terbujur di situ, dia telah tiada. Semua orang menangis, Ibu memelukku, aku pun akhirnya menangis tanpa tahu sebenarnya ada apa.

Ternyata saat siang itu, kakakku mengalami kecelakaan bersama temannya. Sebuah truk besar menghantamnya dari belakang. Itu lah yang mebuat Ibu histeris siang itu, itulah yang membuatnya menangis seketika. Sejak saat itu kakakku di bawa ke rumah sakit, Ibu dan Ayah ternyata menemani kakakku selama di ICU. Bahkan aku tak tahu soal itu. Yang aku ketahui adalah saat kakakku telah mebujur di hadapanku, tanpa hembusan nyawa lagi tanpa tawanya lagi. Itu artinya mulai hari-hari ke depan tiada lagi permen tiap pulang sekolah untukku. Tapi bukan itu yang aku sedihkan. Aku sedih karena aku sadar, aku ditinggalaknnya masih dalam rasa cemburu. Aku belum sempat mengatakan maaf kepada kakakku. Begitu cepat Tuhan mengabil nyawanya. Bahkan aku belum sempat mengembalikan buku catatannya yang aku sembunyikan di bawah lemari Ibu. Aku rindu pada kakakku, andai waktu bisa diputar kembali aku hanya ingin berkata maaf dan terima kasih atas segalanya, untuk permen-permen  yang diberikannya. Tapi itu sudah berlalu, Tuhan lebih menginginkan kakakku yang baik hatinya itu untuk berada di samping-Nya. Aku percaya Tuhan begitu menyayangi kakakku, oleh karenanya Dia memanggilnya. Semoga Tuhan meninggikan derajat kakakku di tempat sana. Meskipun terlambat tapi tiada salahnya kalau aku berkata, “Aku sayang kamu Kak. Aku rindu kamu, suatu saat pasti kita dipertemukan lagi, entah kapan itu. Insya Allah kita bertemu dalam tempat terindah-Nya.”

 

 

Tapi itu sudah berlalu, Tuhan lebih menginginkan kakakku yang baik hatinya itu untuk berada di samping-Nya. Aku percaya Tuhan begitu menyayangi kakakku, oleh karenanya Dia memanggilnya. Semoga Tuhan meninggikan derajat kakakku di tempat sana. Meskipun terlambat tapi tiada salahnya kalau aku berkata, “Aku sayang kamu Kak. Aku rindu kamu, suatu saat pasti kita dipertemukan lagi, entah kapan itu. Insya Allah kita bertemu dalam tempat terindah-Nya.” – IN MEMORIAM “PRADINA DUHITA (DHITA)”

Pesan Dari Membaca

Posted: November 9, 2012 in Jurnal Ceritaku

Masa kecil adalah masa yang identik dengan kebahagiaan, pasti juga penuh akan mainan. Tapi, tidak denganku. Sewaktuku kecil, aku lebih dahulu mengenal buku daripada mengenal mainan. Ya, itu sungguhan terjadi. Ayahku adalah seorang yang begitu maniak membaca, apapun bacaanya. Kata Ayah, manusia itu menjadi banyak tahu karena membaca. Jadi, sejak aku kecil Ayah sudah mengenalkanku lebih dahulu dengan buku. Dari mulai buku bergambar biasa, hingga buku canggih yang aku miliki saat itu. Di buku itu ada jarum jam yang bisa bergerak sendiri, itu canggih buatku. Buku mengenai pelajaran mengenal waktu.

Sejak umurku 5 tahun bahkan, aku sudah bisa menghapal 48 nama partai pemilu 1999. Lengkap dengan nomor urut dan siapa pemimpin partainya. Semua juga gara-gara Ayah. Dulu Ayah memberikanku gambar peserta pemilu dan gambar tokoh pemimpinnya. Di situlah aku mulai dikenal tetangga sebagai anak yang aneh. Karen di saat teman-teman yang lain sibuk bermain mobil-mobilannya, aku sudah bisa membaca koran waktu itu dan mulai suka bertanya-tanya tentang politik masa itu. Karena itu jugalah aku sangat suka dengan Amien Rais. Wajar, karena di tahun 1997-1998 wajah beliau lah yang selalu menghiasai layar kacaku. Bahkan kalau sedang ada beliau di layar kaca, aku akan menghalangi semua orang untuk melihatnya. Hanya aku yang boleh melihat.

Aku kecil adalah anak yang serba ingin tahu. Suatu ketika aku bertanya pada kakakku, kenapa langit berwarna biru? Kakakku menjawab sekenanya. Aku tanya pada Ibu pun hanya di jawab sekenanya, tanpa dalil yang jelas. Lalu kutanyakan pada Ayah, Ayah tidak menjawabnya. Namun, di esok harinya Ayah memberiku buku komik “Rahasia Pengetahuan”, di situlah aku mulai tahu kenapa langit berwarna biru. Selanjutnya ketika aku bertanya apa ibukota Suriname, saat itu juga Ayah langsung mengajakku ke daerah Maester Jatinegara, di situ aku dibelikan buku pintar seri junior. Aku khatam membaca buku tebal itu. Buku itu pun kubawa tidur sampai-sampai terbawa dalam mimpiku. Lalu, saat usiaku 6, Ayah menggantinya dengan buku pintar seri senior yang sampulnya berwarna jingga. Lebih tebal dan lebih berat. Tapi aku suka dengan buku itu. di saat teman-teman yang lain pamer akan tamiya-nya aku dengan bangga pergi bermain dengan menenteng buku itu.

 

Kata Ayahku, kalau aku mau mebaca buku maka aku akan menjadi banyak tahu.

 

Kata Ayahku, kalau aku mau mebaca buku maka aku akan menjadi banyak tahu. Maka di situlah Ayah sering mengajakku ke toko buku. Ayah begitu rutin membelikanku buku, tapi tidak untuk mainan. Jangan harap Ayah akan membelikanku itu, walaupun aku harus merengek tersedu-sedu. Tapi ketika aku meminta dibelikan buku Ayah akan dengan siap sedia membelikannya. Hal itu bahkan masih berlanjut sampai kuliah ini. Tiap kali aku minta uang untuk membeli buku, Ayah tak segan-segan memberi uang yang banyak untuk itu. Tapi ketika aku meminta uang untuk membeli baju baru, kata Ayah, “Yang lama masih bagus kan?”. Hanya seperti itu. Ya begitulah watak Ayahku. Tapi aku sadar manfaat dari semua itu. Membaca. Ya, membaca saat ini menjadi hal yang paling menyenangkan bagiku. Dalam sebulan bisa banyak buku yang aku selesaikan. Semua juga karena Ayah, aku meniru apa yang dilakukannya. Satu kebiasaan Ayah yang masih membuatku sedikit bingung adalah setiap hendak ke toilet Ayah selalu mambawa bacaan. Di sana Ayah bisa berlama-lama. Bahkan Ayah bercerita ingin membuat toilet yang luas dengan  perpustaakaan si dalamnya. Sungguh aneh perangai Ayahku. Tapi di balik semua itu, ya itulah poin lebih Ayahku menurutku. Aku merasa beruntung karena Ayah mengajarkanku untuk menyukai buku sejak kecilku. Banyak anak-anak zaman sekarang yang melihat buku saja sudah enggan, apalagi membacanya. Padahal di dalam sebuah buku kita bisa berfantasi tentang semua hal yang terjadi. Buku mengajarkanku begitu banyak ilmu dan buku mengajarkanku untuk memiliki fantasi dan imajinasi. Buku adalah jendela dunia, itu lah poster yang Ayah pasang di kamarku dulu sebagai pengingat betapa pentingnya arti membaca. Kalau hendak melihat dunia, haruslah banyak membaca.

 

Kalau hendak melihat dunia, haruslah banyak membaca.